"Tiara?, sedang apa dia?"Gumam Arka menatap ke Arah Tiara dengan sorot mata yang kagum dan lemah.
Arka menghampiri dengan perlahan, tidak ingin mengganggu kegiatan Tiara, makin mendekat makin terdengar, suara merdu dengan aliran jazz terlantun dari mulut jelita yang sering mengganggu fikiran Arka. Arka tidak menyapa sedikitupn supaya lebih lama bisa mendengarkan suara Tiara yang baru pertama kali dia dengar, sejak pertama kali pacaran dia tidak tahu kalau Tiara bisa menyanyi. Tapi dia tidak kaget mengingat Ayah Tiara adalah guru vokal yang handal.
Tiara selesai bernyanyi dan merasa hari semakin malam, dia melirik jam dinding dan hendak beranjak hendak pulang, dia beranjak dari banch Piano Upright merk Kawai versi Nevous-10 , tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat wajah Tampan Arka melihati dirinya dengan sangat jelas, seketika Tiara mendengar degupan kencang di dalam dada, mulai salah tingkah merasa malu.
"Kenapa Kak Arka belum pulang?" Tiara menatap dengan sorotan hampa.
"Aku mengambil barang yang tertinggal!" Ucap Arka datar.
Arka tidak membahas tentang lantunan lagu yang barusan ia nikmati, sengaja supaya dia semakin membuat jarak dan tidak ingin membuat ikatan emosionalnya tumbuh, karena merasa mlu dengan Finansialnya yang merosot, dompetnya yang kering diisi hanya puluhan ribu saja, mungkin selesi manggung baru terisi lagi, itupun masuk kedalam tabungan keluarga nantinya.
"Oh yah sudah kak, hati-hati di jalan ya pulangnya!" ucap Tiara setelah melihat Arka mengambil sebuah buku. Dengan raut yang melemah
"Baik Kak Arka mau pulang, kamu juga ya!" Arka melangkahkan kaki keluar dengan berat, tata bahasanya semakin kaku.
Tiara memegang baju Arka menahan dengan manja, karena tidak bisa berdiam dengan Arka terlalu lama, dia juga tidak ingin Arka pergi begitu saja.
"Heh bocah, baju aku melar tau!"
"Kak Arka, jangan pergi dulu, please!"
"Sudah malam bocah!"
"Sebentar saja, aku mohon!"
Tidak tega, tidak bisa terus bersandiwara mendustai perasaan, Arka berbalik menghadap ke arah Tiara, tapi tidak berbicara sedkitpun.
"Kakak bentar lagi mau ujian ya?"
"Iya, kayanya aku gak kesini dulu mulai besok, juga gak ke cafe lagi mau bimbel dulu."
"Oh semoga nilainya memuaskan ya!"
"Iya, Aamiin, terimakasih."
Tiara ingin menahan Arka pulang, tapi bingung mencari bahan obrolan, sampai akhirnya Tiara maupun Arka terdiam cukup lama dan saling memandang dengan tatapan sama hampanya.
"Suara.. Suara kamu bagus" Tiba-tiba Arka mengucapkan kata itu, benteng pertahananannya melemah kembali.
"Mmm biasa saja sih, masih harus banyak belajar, tapi makasih!"
"Iya tentu, pak Firman guru vokal, pasti Tiara selalu belajar dari Ayah Tiara ya, aku baru dengar Tiara menyanyi!"
"Iya Kak", ucap Tiara kembali kaku.
"Kamu mau temani aku bernyanyi malam ini?"
Tiara kaget, membulatkan mata dengan detak jantung yang tidak karuan.
"Jangan...jangan sekarang, Tiara degdegan, udah kakak selesai ujian aja, tar Tiara latihan dulu."
"Udah ujian aku ada janji, mau pergi kesuatu tempat, mungkin sampai berbulan-bulan, sekarang saja, gak perlu latihan, cuman buat senang-senang saja, lagunya yang tadi kamu nyanyikan saja."
"Baik kalau gitu Kak, tapi divideoin ya, biar Tiara punya kenang-kenangan nyanyi bersama Kakak."
"Oke!"
Tiara mengatur posisi kamera yang di taruh di sebuah tripod, berhubung di tempat itu peralatan lengkap jadi butuh sesuatu tinggal ambil.
Arka sekarang yang duduk di banch piano upraight type NV-10 itu (Nevous), NV-10 di desain slim dan minimalis terlihat elegan apalagi Arka yang memainkannya dan akhirnya mereka menyanyikan lagu sebanyak 3 lagu, lagu romantis karena Tiara tidak bisa menyanyi dengan aliran keras, dan Arkapun mengikuti, Arka jago juga dalam lagu slow tetapi jarang mau menyanyikan lagu bertema cinta karena Arka kurang suka, tapi karena yang dihadapannya adalah Tiara mendadak dia menikmati alunan lagu puitis tersebut, mungkin sebagai perwakilan hati juga, Arka hanya bisa bersikap seperti ini pada Tiara, tidak pernah ada satu wanitapun yang mendapat perlakuan istimewa semacam ini.
Inilah kali pertama Arka menyanyikan lagu Romantis.
Mereka selesai bernyanyi dan terlihat wajah keduanya puas dengan hasilnya.
"Tiara cepat pulang lalu tidur!"
"Baik Kak, Kak Arka juga ya, btw bolehkan Tiara upload di chanel Youtube milik Tiara? karena diluar dugaan hasilnya bagus sekali."
"Terserah Tiara saja, tidak masalah!"
Tiba-tiba langkah kaki Arka buru-buru ingin cepat pulang, raut teduh dan menyejukan kini berubah suram kembali seperti biasanya, tepatnya saat Arka memutuskan jaga jarak dengan Tiara, disaat setelah merapikan tempat itu dan mematikan listrik, terlihat dalam mata Tiara bahwa Arka tidak nyaman, seolah sudah tidak betah berada ditempat itu, dimana hanya ada mereka berdua disana, Tiara hanya bisa tersenyum masam, melihat tingkah Arka yang tidak tenang.
"Kak Arka jenuh baget ya sama Aku." Gumam Tiara dalam hati.
Dia tidak bisa mengatakan itu pada Arka, karena Arka terlalu cepat berlalu dan pergi.
Faktanya, semakin larut rasa emosional itu timbul lagi dalam jiwa Arka, Arka faham betul jika dibiarkan dia tidak bisa mengendalikan diri lagi dan bisa hilang kendali seperti hal kejadian di kamar Tamu di rumah Pak Firman, jiwa keberengsekannya akan muncul seketika jika tidak cepat pergi dari tempat itu, Arka lebih memilih menahan semuanya.
Sugguh Arka cuman tidk ingin menjadi seorang yang PHP ulung, tidak ingin seseorang menunggu lama untuk dirinya, karena mimpi dia masih panjang, tidak tahu berapa lama jika menunggu untuk bisa menyetabilkan finasial keluarganya yang carut marut, ditambah sudah ada rencana dalam diri dia pergi ke ibukota.
Arka tahu, semuanya tidak bisa instan, kehidupan tidak akan ajaib jika tidak ada usaha dengan sungguh-sungguh dan doa yang rutin. Tekad bahwa dia tidak mau berpacaran kalau masih menyusahkan orang lain apalagi wanita, masih tertanam dalam dirinya walaupun sebenarnya, dia butuh dan ingin didampingi, dan tidak mudah memecahkan tekad Arka tersebut.
***
Arka di hadang saat pulang ke rumah, siapa lagi musuhnya kalau bukan kakak kandung Liza, Namanya Martin orangnya keras kepala dan kasar, kali ini Martin lebih hati-hati jangan sampai di tangkap polisi, dia menyerang Arka menggunakan kata-kata mengumpat memaki, memancing Amarah Arka supaya Arka yang meledak duluan.
"Anak miskin, tidak berguna, binat***, orang gila sint***"
Dia menghentikan Motor Arka lalu menghinanya membabi buta meluap-luap.
Sungguh Arka tidak suka adu mulut seperti ini, ingin rasanya langsung memukul orang yang ada dihadapannya itu, Arka memejamkan mata menahan emosi sebisa mungkin, mengingat akan masuk masa ujian, dia juga harus menjaga nama baik setidaknya sampai lulus.
"Heh.. Macam mana pula lu, berani sama adik gua Liza, jangan cuman diam saja lu, macam patung gak berguna!"
Iya Liza berasal dari Sumatera, setahu Arka kini Ayahnya pergi jauh ke Sumatera juga susah di hubungi, Arka jug tidak tahu kenapa kakaknya dan Liza ada disini mungkin kah Ayah juga kembali ke Bandung, Arka tidak peduli.
"Adik elu duluan ancurin keluarga gua Bang, dia juga nyamperin nyokap gua, kita seharusnya gak ada urusan yah, jangan bikin gua emosi, masih muda usia dia beda cuman tiga tahunan sama gua, gak tahu malu."
"cihhh, itu juga urusan gua, ayo kita separing kalau berani, jangan bawa-bawa polisi!"
"Satu lawan satu?"
"Iyaiyalah, kecuali kalau lu cium kaki gua, jilatin sepatu gua, gua ampunin lu, hahahaha, dasar miskin, tidak berguna, sampah!"
"Emhh ya udah kalau mau tonjok-tonjokan gak usah menghina, gua ajak lu kesuatu tempat, biar suasana bertarungnya kaya di pelem-pelem, ada unsur dramatisirnya Bang, tempatnya sepi cuman kita berdua, disana gua bakal habisi elu!"
"Jangan banyak bacot, dimana tempatnya? ayo kita kesana, tangan gua udah gak sabar patahin rahang sama kaki elu."
"Yuk ikut gua, baca bismilah dulu bang, biar selamet!"
"bacot, buraun gua ikutin lu dari belakang."
Arka mengajak pria itu kesuatu tempat yang sepi, di sebuah gang dengan motornya, diikuti Martin dibelakang.
"Disini tempatnya? Sepi seperti lu ceritain, ayo lu serang gua duluan!" kepalan tinju dan kuda-kuda mulai terlihat.
"Mang Sukrim, Mang Badrun Tulungan Arka, aya nu rek ngajak gelut Arka!"
"Ngomong apa lu?, manggil siapa lu?"
Martin tidak mengerti karena bukan orang sunda.
"Aya naon ieu? Saha nu ngaganggu Alo urang? (ada apa ini, siapa yang menggangu sepupu gua?)."
Sukrim dan dan Badrun muncul, mereka adalah ketua preman yang pernah mendapat kebaikan dari Arka, dan sudah anggap Arka saudara sendiri, diikuti pasukan mereka yang berjumblah lebih dari sepuluh
"Mang tulungan, Arka arek sakola isuk rek ujian kalah rek digebugan (Bang tolong, Arka mau sekolah besok, mau ada ujian malah mau dipukulin sama orang ini)"
"Gera balik weh Lur, Keun Ku Amang di ladenan ari hayang gelut mah! (kamu pulang aja de, biar sama Abang diladenin kalau mau bertarung)
"Hatur nuhun! (terimakasih!)"
Arka pergi menggunakam motornya
"Aampunn, saya yang salah... Saya yang salah, tidak akan ganggu bocah itu lagi!" Kata Martin hendak lari tapi jatuh dan tersungkur.
Martien memang tidak mengeriti bahasanya, tapi suasana suram disana mampu ia pahami, di tambah sekarang dia dikepung oleh puluhan preman.
"Serangg...!!". Pekik Sukrim.
***
Bersambung Coy
Apakah segini cukup menegangkan? Mohon dkkeritik dengan kritik membangun.
Mohon maaf atas tulisan yang tidak sempurna, mudah-mudahan pesan di cerita tersebut bisa sampai ya..
~Menjadi hebat itu tidak instan.
~Usaha tidak akan pernah menghianati hasil, orang bilang Arka anak ajaib stamina tinggi skill juga udah tinggi, tapi juga wajahnya tampan, di balik layar Arka kesusahan jaga makanan, banyak yang di pantrang biar gak batuk, minuman cukup Air putih, latihan setiap hari, latihan pernapasan, intonasi, screaming, dll, yang paling penting feeling harus kuat. Jadi cerita di buat serealita mungkin..
~Arka di episode awal semena-mena ,palyboy, banyak pacar dan kasar, berubah karena keadaan dan situasi.
Bye...
Ini adalah sapaan terpanjang, karena rasa kasihan saya sama tokoh sendiri haha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar