Senin, 26 Agustus 2019

Part 5 : Di Jewer Mamah


"Ujang kasep... ini Nenek bawain Boled sama Sampeu kesukaan kamu!" Kata Nenek Arka di depan pintu rumah menyambut cucunya pulang larut.

Arka terdiam, teringat dia pernah berbohong berlibur ke rumah Nenek, eh malah Neneknya ada disini sekarang, Ibu juga ada di samping Nenek membuat Arka salah tingkah.

"Jang, kenapa kamu diam saja, udah lama ya kita gak ketemu udah berbulan-bulan yang lalu, pas lebaran haji waktu itu ya," ujar Nenek mengenang.

"Iya, Nek! udah lama ya hehe..." Arka menjawab ragu-ragu.

Arka melirik ke Arah Ibu, dilihatnya mata Ibunya melirik juga ke Arka, terlihat mata Ibunya Arka seperti seorang Ninja Asasin yang sedang ingin tebas musuh, "ko suram?" gumam Arka dalam hati.

"Kalau mau Boled ambil di dapur, Nenek mau ketemu Vino dan Vini dulu ya nak, jangan lupa di habiskan, soalnya yang suka cuman kamu doang!" ucap Nenek.

Telinga Arka panas dan memerah, Ibu kini sudah menjewer Arka tanpa ampun setelah Nenek pergi.

"Seminggu liburan kemarin kamu kemana? katanya kerumah Nenek, Nenek bahkan tidak bertemu dengan mu!"

"Ampun, Mah! semua bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan, ampun..."

"Diam kamu! ayo jelaskan sekarang, kamu tahu tidak tetangga pada ngomongin kamu, Arka."

"bibiarkkan saja mah, tidak usah baper, arka udah biasa di salahfahami orang hihi," Arka berceloteh menyembunyikan rasa takut.

Jeweran Ibu terlepas, ganti cubitan di pipi berkali-kali.

"Terus sebenarnya kamu kemana, anak nakal? Awas kalau malakin orang diterminal loh."

Arka cuman terdiam, sambil mengelusi pipinya.

“Arka, bisakan  sekali saja kamu betah di rumah, kenapa kamu lebih nyaman diluar dari pada di rumah sendiri, semenjak Papahmu pergi, apa harus sefrustasi itu?, kamu seperti anak yang hilang saja, cuman muncul beberapa jam lalu pergi."

Arka pura-pura baca buku tiba-tiba, masih saja tidak menjawab.
"ditanya malah diam ini anak,"

Bu Lidya akhirnya terdiam putus asa, 

"Aku... anu, sebbetulnya, emhh itu cuman sedikit bantu mamah kerja." 

"Ya ampun, kan sudah mamah bilang itu tidak usah kamu lakukan."

"Gak masalah, Mah! Arka kan Pria, mau melindungi mamah, Relax Mah... Relax."

Ibunya sekarang yang terdiam, Ibu Lidya tahu percuma melarang Arka, tetapi dia juga tidak tega pada anaknya. Wajahnya yang dari tadi terlihat marah mulai menjadi sendu.

“Mah, besok Arks diajak ikut mengajar di CJ-Music School sama Pak Firman, ngajar anak-anak usia SD main music sama olah vocal, Arka minta sama mamah ijinin Arka, please! jangan Negatif Thingking terus sama Arka,  dari pada Arka keluyuran, apa lebih baik mamah ijinin Arka bantuin mamah nyari uang , soalnya mamah larang juga percuma, dibelakang aku bisa lakuin ini semua, di tempat pak Firman gak lama kok cuman seminggu tiga kali selama dua jam.”
“Bukannya apa-apa Arka, kamu ini sudah kelas tiga, nanti belajarmu terganggu.”
“tidak akan, aku bisa jamin dan yakin, Mah! masalah nilai aku jelek, memang dari dulu nilaiku jelek kan, mah? bukan karena banyak kegiatan diluar.”

Arka memang keras kepala membuat ibunya menjadi bingung.

“Tapi, Kalau masalah cari uang itu urusan mamah, mamah gak mau kamu ikut campur, maaf jika penghasilan mamah kurang sehingga kamu nekad cari kerja sambilan.”
“Engga itu urusan Arka juga, soalnya Arka Anak pertama disini, dan adik-adik Arka semuanya ada tiga, butuh pendidikan semua, mereka pintar-pintar, gak kaya Arka, Tapi Arka bisa mengandalkan suara Arka untuk membantu keluarga kita.”
“ya sudah mamah ijinin kamu, tapi jangan terlalu berlebihan, sewajarnya saja, tetap harus mengutamakan pendidikan.”
“Terimakasih untuk ijinnya mah, Arka jadi tidak perlu main kucing-kucingan lagi dengan Mamah.”
“yah mau bagaimana lagi, kamu kalau sudah punya perinsip susah untuk diganggu."
***


3 Bulan berlalu begitu cepat, dengan rutinitas Arka yang penuh, pulang sekolah ke CJ-Music School di daerah Cijerah, pulang dari sana, mengamen sebentar, lalu ke cafe milik keluarga temannya dan menyanyi disana saat malam hari, jika ada waktu luang, digunakan untuk latihan dan latihan saja, lalu jika ada Festival music Arka pasti daftar untuk ikut, tidak merasakan pacaran, main game, dan nongkrong dengan teman dengan tenang, apalagi tidur sepanjang waktu di saat libur seperti teman-temannya yang lain, Arka tidak iri melihat kesantaian temannya saat main games, ataupun tertidur santai dengan bermalas-malasan, karena bernyanyi adalah nafas hidupnya, dan dia menikmati setiap dia bernyanyi utuk orang lain ataupun dirinya sendiri, menjadikan dia bersemangat, atau juga terkadang luapan-luapan emosi Arka, ia keluarkan berupa scream dalam sebuah nyanyian hardcore. 
Sementara Tiara sering menatap mengharapkan Arka jika bertemu, walaupun Arka sedingin es saat dia sapa, tapi ternyata tidak ada kemajuan, dan perubahan atas sikap Arka membuat hati Tiara terasa sesak dan  pilu,  tiga bulan dengan sikap Arka membuat Tiara perlahan menyerah dan menjauh dengan sendirinya.
Tidak jauh dari Tiara, sebenarnya dilubuk hati yang paling dalam Arka menyimpan sebuah lubang luka didalam hatinya, dengan berbagai macam pertimbangan dia melepas Tiara, menyadari dia dalam ekonomi yang surut, belangsak membuat dia minder pada anak Pak Firman guru vokal sekaligus dewa penolong, penasehat yang bijak, serta sesosok figur ayah idaman bagi Arka, Arka sekali berperinsip tidak akan main-main, dia tidak sudi mengajak wanita merasakan kemiskinannya.
Apalagi jika berpapasan dengan Tiara di jalan dan kebetulan Arka sedang dibawah terik matahari mengharapkan beberapa uang dari kendaraan yang berhenti di lampu merah, membuat dirinya merasa jadi pecundang paling kalah dihadapan dewi yang pernah mengisi hatinya.
Walaupun sekarang Arka mempunyai penghasilan yang lumayan, semuanya diserahkan kepada Ibu dan Adik-adiknya, untuk kepentingan pendidikan yang lebih baik, seperti bimbel Nadhira dan biyaya sekolah SD Vino, dan TK Vina, dan juga biyaya sekolah dia sendiri, ia hanya mengambil sedikit untuk jajan yang tidak boros tersebut.

Arka pergi kekamar, hendak tidur, tidak lupa sebelum tidur dia mengecupi foto Tiara yang difoto tersebut sedang di rangkul Arka, lalu diletakan pula gitar baru di sisi kasur, gitar baru itu pemberian dari Pak Firman.
Pak Firman dan anaknya Tiara akan menjadi dua orang yang berarti selain keluarga Arka, tidak akan Arka lupakan.
***
Bersambung






























Tidak ada komentar:

Posting Komentar