Arka merasakan, meriang dengan suhu badan yang tinggi dari pagi, diapun memilih naik angkutan Kota ke Sekolah karena malas membawa motor dalam keadaan tidak enak badan, harusnya dia beristirahat hari itu, tapi karena merasa tidak parah, dia menjalankan aktifitas seperti biasa,
Siang hari tidak ada perubahan, dia berfikir obat warung tadi bisa membuat efek, tapi ternyata tidak, sepulang dari CJ-Music shcool yang lokasinya bersampingan dengan rumah pak Firman itu, wajahnya pucat.
Dia menaiki angkutan umum kembali dengan malas saat waktunya pulang, sambil menundukan wajah, menahan rasa mual dan puyeng, dia perlahan menatap ke arah depan terlihat Tiara naik kendaraan itu juga.
"Tiara, kamu mau kemana? Kenap Bisa ada si angkot yg sama dengan Kakak?" tanya Arka
"Kak Arka pucat, aku lihat sepanjang ngajar di CJM ( CJ-Music School) gak fokus, aku ikut aja akhirnya, mastiin kakak gak kenapa-kenapa dijalan," Kata Tiara dengan mimik serius
"lah.. Gak usah, kamu ini berlebihan, orang kakak baik-baik aja," Kata Arka.
Terlihat wajah Arka tidak suka dikasihani.
"kalau kakak pingsan gimana?." Ucap Tiara masih dengan wajah serius.
"lah Kakak pingsan, kamu juga gak bisa angkat kakak, lagian kakak gak pernah pingsan tuh, Sorry ya," ucap Arka bernada sombong.
Tiara diam saja tidak menanggapi
"Aku kaya hewan ternak aja diikutin kamu mulu ih," Kata Arka sambil menatap Tiara sebal
"Hewan ternak manapun pasti bahagia bisa diikutin gembala cantik kaya aku kak," ucap Tiara dengan mimik tegas penuh percaya diri
Sekarang Arka yang terdiam tetapi mulai tersenyum, mendengar ucapan Tiara.
"Kak Arka pucat, aku lihat sepanjang ngajar di CJM ( CJ-Music School) gak fokus, aku ikut aja akhirnya, mastiin kakak gak kenapa-kenapa dijalan," Kata Tiara dengan mimik serius
"lah.. Gak usah, kamu ini berlebihan, orang kakak baik-baik aja," Kata Arka.
Terlihat wajah Arka tidak suka dikasihani.
"kalau kakak pingsan gimana?." Ucap Tiara masih dengan wajah serius.
"lah Kakak pingsan, kamu juga gak bisa angkat kakak, lagian kakak gak pernah pingsan tuh, Sorry ya," ucap Arka bernada sombong.
Tiara diam saja tidak menanggapi
"Aku kaya hewan ternak aja diikutin kamu mulu ih," Kata Arka sambil menatap Tiara sebal
"Hewan ternak manapun pasti bahagia bisa diikutin gembala cantik kaya aku kak," ucap Tiara dengan mimik tegas penuh percaya diri
Sekarang Arka yang terdiam tetapi mulai tersenyum, mendengar ucapan Tiara.
***
Di rumah Arka terdengar percakapan wanita muda yang berusia lebih tua dari Arka 3 tahun, dia berucap dengan nada lembut namun menusuk hati perempuan manapun yang mendengarnya,
Liza, menyinggung Ibu Lidya mamah Arka, supaya berhenti SMS mantan suami Bu Lidya untuk meminta uang, padahal harusnya anak-anak Ibu Lidya memang masih tanggung jawab Ayah mereka, tapi wanita bernama Liza itu berkata dengan ilmu yang tidak cukup membolak-balikan fakta, dan palying victim, seolah dia yang paling benar layaknya pelakor kebanyakan yang ada di Indonesia, dia memang barbar sehingga Bu Lidya meneteskan air mata mendengar dia berucap.
Di rumah Arka terdengar percakapan wanita muda yang berusia lebih tua dari Arka 3 tahun, dia berucap dengan nada lembut namun menusuk hati perempuan manapun yang mendengarnya,
Liza, menyinggung Ibu Lidya mamah Arka, supaya berhenti SMS mantan suami Bu Lidya untuk meminta uang, padahal harusnya anak-anak Ibu Lidya memang masih tanggung jawab Ayah mereka, tapi wanita bernama Liza itu berkata dengan ilmu yang tidak cukup membolak-balikan fakta, dan palying victim, seolah dia yang paling benar layaknya pelakor kebanyakan yang ada di Indonesia, dia memang barbar sehingga Bu Lidya meneteskan air mata mendengar dia berucap.
Arka baru datang, diikuti Tiara yang ada di sampingnya,kadang di belakangnya mengekor dan tidak jauh. Arka kemudian melihat pemandangan asing yang tidak Arka sukai, dia belum tahu apa-apa tapi dia melihat jelas air mata Ibunya mengalir deras dengan mata yang membengkak.
Arka yang tempramen, berusaha menahan kebiasaanya itu, menekan suara menahan emosi menyapa Liza.
"heh maneh Awewe jurig, kuntil anak, rek naon sia kadieu. (wanita setan, kuntil anak mau apa lu kesini)"
"heh maneh Awewe jurig, kuntil anak, rek naon sia kadieu. (wanita setan, kuntil anak mau apa lu kesini)"
"maaf... Aku kesini cuman ingin silaturahmi" kata Liza tidak tahu malu.
"Silaturahmi macam apa yang bisa buat ibu saya menangis? dasar orang gila!" Kata Arka menatap tajam, masih menahan Amarah karena Amarah Arka bisa lebih ini jika menyinggung masalah Ibunya.
"Tidak tahu ya, mungkin ibumu terlalu sensitif, aku hanya minta dia tidak SMS suami saya, suami saya keganggu tuh jadinya."
"Berisik, lu kuntilanak!" Pekik Arka
"Ibu kamu gak bisa didik kamu ya, pantesan bapak kamu gak betah sama ibu kamu, terus di tinggalin, dan lebih bahagia dengan aku," kata Liza berusaha menyembunyikan rasa takut, ia menutupi dengan geretakan.
Arka emosinya semakin memuncak, jika ada orang yang menuduh ibunya seperti itu dia tidak bisa mengendalikan emosi lagi, sebuah pot bunga terbuat dari tanah liat di lempar Arka tepat dihadapan Liza, yang membuat Liza ketakutan, suara pot yang pecah keras itu berhamburan, dengan cipratan tanah dan beberpa pecahan mengenai wajah Liza.
"Stop Arka!" teriak, Ibu Arka, "kamu masuk kamar saja tidak usah ikut campur urusan orang dewasa!" pinta Ibu dengan wajah sendu.
Arka tidak mendengarkan, dia terus menatap wajah Liza yang dia benci, mata Arka sudah memerah dengan amarah yang bergejolak.
Arka tidak mendengarkan, dia terus menatap wajah Liza yang dia benci, mata Arka sudah memerah dengan amarah yang bergejolak.
"Mau pilih lengan, atau kaki dulu yang gua patahin, gua seumur hidup gak pernah mukul cewek, tapi pengeculaian sama lu, karena lu bukan manusia, Bangstt** !" Teriak Arka.
Liza, mundur kakinya gemetar.
Pot Keramik kembali di lempar Arka tepat di hadapan Liza, tapi Arka walaupun marah dia pakai perkiraan, dia tidak benar-benar mau mengenai tubuh wanita itu, Arka hanya ingin menyerang mental Liza, dia sebenarnya tidak bisa melukai wanita walaupun wanita itu jahat, tapi ekapersi Liza semakin tidak tahu malu dan semakin meledek keluarga Arka, lewat tatapan dia yang memperlihatkan penghinaan.
"Miskin banget yah, samapi masih SMS bapak kalian!"
Pot Keramik kembali di lempar Arka tepat di hadapan Liza, tapi Arka walaupun marah dia pakai perkiraan, dia tidak benar-benar mau mengenai tubuh wanita itu, Arka hanya ingin menyerang mental Liza, dia sebenarnya tidak bisa melukai wanita walaupun wanita itu jahat, tapi ekapersi Liza semakin tidak tahu malu dan semakin meledek keluarga Arka, lewat tatapan dia yang memperlihatkan penghinaan.
"Miskin banget yah, samapi masih SMS bapak kalian!"
Geretakan Arka dari tadi berubah menjadi emosi yang membabi buta, Arka tidak bisa menahannya lagi dia menghampiri Liza, hendak memukulinya, baru sempat satu cakaran mendarat diwajah Liza, tapi dihentikan oleh Ibu Arka, ditariknya badan anaknya itu sekuat Ibu Lidya bisa, karena bu Lidya tidak mau anaknya berada dalam masalah yang lebih besar lagi, kesabaran ibu Lidya terlalu istimewa dan berlebihan menurut Arka. Arkapun sedikit melemaskan ototnya, ketika tangan Ibu Lidya memegang erat bahunya, dan mendekap Anaknya penuh perhatian.
Liza berlari penuh gemetar, getaran yang hebat, hingga dia sempat terjatuh saat akan melarikan diri dengan sedikit luka cakar di wajahnya.
Liza berlari penuh gemetar, getaran yang hebat, hingga dia sempat terjatuh saat akan melarikan diri dengan sedikit luka cakar di wajahnya.
"Jangan lari kamu pelac**, lont**, binatang!" Teriak Arka memaki secara membabi buta, menendang pintu hingga melukai kakinya sendiri karena emosinya masih ada walaupun sudah ditenagkan Ibunya, tidak cukup untuk mengubur emosinya.
Mata Arka mulai menangkap ke Arah Tiara perlahan, yang dari tadi terdiam, melihat kejadian itu, terlihat tangan tiara bergetar luar biasa karena ketakutan, wajahnya pun pucat tidak tertolong, pasti Tiara yang anak rumahan dengan keluarga baik-baik saja, tidak pernah menyaksikan kejadian semacam ini. Arka dengan cepat menghampiri Tiara, karena rasa peka Arka terhadap mantan kekasih.
Arka berkata sangat pelan dan mengubur emosinya yang tadi dia keluarkan semuanya, dengan tujuan tidak membuat Tiara ketakutan.
"Maafkan aku Tiara, kamu jadi harus menyaksikan kejadian yang buat kmu takut!" Arka membelai Tiara lalu berteriak ke arah adiknya "Nadhira, ambilkan air hangat untuk Tiara, ajak dia masuk dan duduk!"
"aku tidak apa-apa" Tiara berucap dengan bergetar.
Betapapun jika dimasalalu Arka pernah berkata kasar pada Tiara, terutama saat mereka putus, itu hanya acting supaya Tiara bisa cepat melupakan Arka, tapi jika Tiara setakut ini Arka pasti tidak akan membiarkan, padahal hati Arka sendiri lebih kacau dari Tiara.
Arka masuk sendirian ke arah belakang rumah, karena merasakan badannya yang sudah meriang dari tadi semakin terasa, dia tidak mau semakin terlihat konyol dihadapan Tiara, lagi pula dia sudah titipkan Tiara bersama adiknya untuk minum dengan tenang.
Arka memejamkan matanya dan bersandar pada kursi, sekarang badan dan hatinya sudah sakit sepenuhnya, tidak lama setelah itu sepasang mata jelita melihat ke arah Arka, lalu menghampiri secara perlahan, membawa segelas Air hangat untuk Arka.
"Minum dulu Kak Arka, supaya lega!" ucap Tiara
"Kok gak pulang?" Kata Arka
"Gak bisa pulang sebelum melihat Kak Arka baik-baik aja, wajah kakak terlihat lebih pucat dari saat kakak mengajar tadi," Balas Tiara
"Sebentar lagi, juga baik-baik saja, aku sudah minum obat ko."
"Aku gak liat kakak minum obat"
"Aku kan kalau minum obat gak pernah laporan ke Kamu."
Tiara terdiam sambil menatap Arka penuh kasih
"Jangan tatap aku kaya gitu, aku gak suka dikasihani," Arka berkata kembali sambil memalingkan wajah kesal.
"Maaf!"
"Minum dulu Kak Arka, supaya lega!" ucap Tiara
"Kok gak pulang?" Kata Arka
"Gak bisa pulang sebelum melihat Kak Arka baik-baik aja, wajah kakak terlihat lebih pucat dari saat kakak mengajar tadi," Balas Tiara
"Sebentar lagi, juga baik-baik saja, aku sudah minum obat ko."
"Aku gak liat kakak minum obat"
"Aku kan kalau minum obat gak pernah laporan ke Kamu."
Tiara terdiam sambil menatap Arka penuh kasih
"Jangan tatap aku kaya gitu, aku gak suka dikasihani," Arka berkata kembali sambil memalingkan wajah kesal.
"Maaf!"
Mereka berdua saat ini berada dalam situasi hening, keduanya sama-sama diam, hanya tatapan sendu dari keuanya yang bisa menggambarkan suasana ditempat itu, walaupun demikian, keduanya tidak berani saling tatap
Terdengar hembusan nafas kasar Arka, sambil mencengkram kursi dari samping, diiringi tatapan yang suram. Dia berusaha mengucapan sesuatu pada Tiara setelah itu, hal yang sebenarnya dia benci untuk membahasnya.
"Kamu sekarang udah taukan, kenapa aku gak mau balikan sama kamu?, aku gak mau kamu menyaksikan hal memalukan kaya gini, ini baru satu sisi saja belum yang lainnya," jelas Arka dengan mimik yang serius.
Tiara diam saja, takut slah ucap dihadapan Arka
"Apalagi kamu gak akan bisa bahagia sama aku, aku udah gak bisa ajak jalan lagi ke steakhouse ataupun coffee shop favorit kamu, ajak jalan kamu, nonton atau yang lainnya, gak bisa, apalagi keluar kota kaya dulu kita sering pergi. Kamu tahu, ke Lembang yang deket aja aku gak ada uang sekarang."
"Kamu sekarang udah taukan, kenapa aku gak mau balikan sama kamu?, aku gak mau kamu menyaksikan hal memalukan kaya gini, ini baru satu sisi saja belum yang lainnya," jelas Arka dengan mimik yang serius.
Tiara diam saja, takut slah ucap dihadapan Arka
"Apalagi kamu gak akan bisa bahagia sama aku, aku udah gak bisa ajak jalan lagi ke steakhouse ataupun coffee shop favorit kamu, ajak jalan kamu, nonton atau yang lainnya, gak bisa, apalagi keluar kota kaya dulu kita sering pergi. Kamu tahu, ke Lembang yang deket aja aku gak ada uang sekarang."
"Gak apa-apa , Tiara gak butuh yang kaya gitu, Tiara cuman mau nemenin Kak Arka aja"
"Kamu harus lebih realistis sedikit, kamu masih pelajar, kalau cuman buat susah-susahan yah gak usah pacaran sekalian."
"tapi aku beneran mau nemenin Arka dalam keadaan apapun!"
Menggaruk kepala dengan kasar, karena sifat Tiara yang tidak realistis tersebut.
"Kalau kamu masih mau ngotot kaya gitu, mending nanti sama Suami kamu kelak, jodoh gak ad yang tahu, emang kamu gak ngerasa rugi barengan susah nemenin aku tau-taunya kita bukan jodoh."
Tiara cuman bisa terdiam mendengar Arka, memang dia hanya seorang siswi yang tidak tahu apa-apa apalagi untuk kehidupan setelah sekolah dia tidak pernah tahu seperti apa, tapi jika meninggalkan Arka sendirian dia juga merasakan rasa sakit.
"Sekarang kamu main aja sama Nadhira sana , kalau mau senang-senang sama adik aku aku ijinin kamu kesini, tapi kalau kamu niatnya ngeratapin hidup aku lebih baik pulang saja, belajar, dan lakukan hobby kamu, supaya gak sia-sia masa remaja Kamu!"
"Kak Arka juga masih remaja, tapi sudah kehilangan masa remajanya dan sibuk untuk bekerja."
"Iya, makannya aku gak mau kamu kaya aku, lagian Ayah kamu seorang yang hebat, pasti anaknya juga hebat."
"Ya sudah kalau gitu, aku gak bakal minta balikian lagi kaya kemarin-kemarin, tapi tolong aku ingin kakak berkata jujur dulu, apa kaka masih cinta sama aku?"
"Buat apa aku jawab?"
"aku penasaran aja, kenapa kakak masih simpan poto aku, tadi gak sengaja lihat kamar kakak dari luar pas bareng Nadhira!"
Arka menggaruk kepala, gadis ini tidak mudah untuk menyerah hingga buat Arka bingung
"Aku mau istirahat dulu, supaya aku besok sembuh dan sekolah, kamu bisa sama Nadhira dulu kalau masih mau main disini," Arka melangkah pergi dengan kepala berat, dia membuka pintu menuju ke dalam rumah perlahan.
Di ujung pintu, Arka menatap Tiara kembali dengan sayu, "Tiara.... Iya aku masih sangat Cinta sama Kamu!" Arka kemudian menutul pintu perlahan menuju kamarnya.
Ucapan Arka terdengar samar karena agak jauh dari posisi Tiara berdiri saat itu, Tiara menyayangkan kenapa dia tidak mengikuti langkah Arka dan mendengarkannya dengan jelas, tapi sekarang Arka sudah berada dibalik pintu, menuju kamarnya untuk beristirahat.
Tiara tidak ingin mengaggu lagi, tapi walau kata-kata Arka samar, Tiara bisa merekam dan memastikan kalimat ucapan Arka, Tiarapun pulang dengan tersenyum.
***
Tiara tidak ingin mengaggu lagi, tapi walau kata-kata Arka samar, Tiara bisa merekam dan memastikan kalimat ucapan Arka, Tiarapun pulang dengan tersenyum.
***
"Bu, tadi saya lihat di CJM Arka pucat, tadi sempat ngobrol dia bilang sudah minum obat, tapi takut bohong nanti di cek lagi sama ibu ya!" Ucap Tiara dengan tersenyum.
"Oke, nanti Ibu cek,Terimakasih ya Tiara, kamu anak yang sangat baik dan manis."
"Saya pamit dulu ya, Bu!"
"Gak main dulu, Nak?"
"Saya takut ganggu, Bu! lain kali saja."
"hati-hati, salam buat pak Firman, terimakasih sudah baik pada Arka seperti pada Anaknya sendiri, Arka sering cerita tentang ayah Kamu."
"Iya nanti saya sampaikan ke Ayah, Saya pulang dulu Bu! Asslamualaikum!"
"waalaikumsalam!"
****
Bersambung Coy
Mohon maaf jika Arka hari ini kata-katanya kasar Teman-teman, itu Faktor amarah saja, Tapi sudah saya Jinakan, saya suruh dulu rebahan Arkanya karena Part selanjutnya saya suruh fighting, tonjok-tonjokan gitu, sama siapa sih?? tunggu aja besok
Extra:
Arka : Thor, sembuhin gua dulu baru boleh suruh gua fighting, gua gak mau fighting kalau masih demam!
Author : Terserah saya, ko anda yang ngatur...
Arka : Mohon pengertiannya, biar Gua menang, malu dong pemeran utama Kalah,
Author :Baca aja bismilah yang banyak!!
Arka : :(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar