Arka pulang larut malam karena kerja dulu di sebuah cafe di daerah Pagarsih, secara diam-diam masuk kekamar, karena tidak mau luka di wajahnya kelihatan ibu, hanya sapaan dari kejauhan yang dia berikan pada ibu pertanda sudah pulang.
"Mah, Arka tidur duluan, tadi udah mandi ko"
"Mah, Arka tidur duluan, tadi udah mandi ko"
"Makan dulu, Arka!" Teriak Ibu
"Udah ko, ditraktir temen tadi," ucap Arka berteriak dari dalam kamar tidak setor wajah samasekali.
kruyukkk suara perut Arka.
"Hah, gila laper banget, Madesu banget sih Aing, " Gumam Arka sambil mendaratkan badannya di kasurnya yang tidak empuk karena terbuat dari kapuk.
"Hah, gila laper banget, Madesu banget sih Aing, " Gumam Arka sambil mendaratkan badannya di kasurnya yang tidak empuk karena terbuat dari kapuk.
Mata Arka terjaga sampai tengah malam, walaupun lampu sudah dimatikan tidak membuat Arka ngantuk karen terlalu lapar, Arka pergi kedapur ia yakin tengah malam seperti ini tidak ada siapa-siapa di dapur.
Perlahan mengendap, sesekali menoleh kekiri dan ke kanan, terlihat tempat nasi di meja makan, sehingga membuat guratan senyum bahagia, yang mebuat Arka setengah berlali lalu jingkrak kegirangan, dengan tatapan penuh kerakusan dibukanya tempat nasi dan lauk itu.
"Jrittt, tinggal nasi doang, sial banget gua" Kata Arka sambil mengambil nasi saja mencoba ikhlas.
"humayyan (lumayan)" Gumam Arka dengan nasi penuh di mulut.
"humayyan (lumayan)" Gumam Arka dengan nasi penuh di mulut.
Lampu menyala tiba-tiba, tidak sempat kemana mana dengan nasi masih dimulut, dia menoleh ke arah belakang tepatnya ke saklar lampu.
"Mamah?" gumamnya sambil mengunyah lalu memalingkan wajah untuk menutupi keadaan.
"Arka, kamu bikin kaget saja, kirain ada tikus masuk dapur."
Ibu Arka menghampiri anaknya, mungkin juga feeleng Ibu Arka menelaah wajah anaknya yang dari kemarin seolah menghindar, bola mata Ibu Arka terbuka lebar, menghampiri Arka, mengelus kepala dan memperhatikan luka.
"Aa Kamu kenapa? Berkelahi dengan siapa?, kamu buat masalah?"
Arka cuman terdiam sambil masih mengunyah karena terlalu lapar.
"Kamu kenapa selalu saja buat orang tua cemas, dari SMP sering berkelahi, Mamah kira kamu sekarang udah berubah, masih tetap saja bikin Mamah takut, maneh teh geus jebrog ." Pekik Ibu Arka
Arka sungguh tidak ada ide sedikitpun untuk mengarang cerita apalagi harus jujur, supaya ibunya tidak khawatir, saking tidak ada idenya, Arka hanya mampu menambah nasi kemulutnya dengan lahap.
"Mulai besok, kamu selain sekolah gak boleh kemana-mana lagi, mamah udah gak percaya lagi sama lingkungan tempatmu main atau kerja."
"Jangan mah, Ini semua gak ada hubungannya sama tempat Arka kerja Mah"
Arka mulai membuka suara, terlalu ketakutan, dia sempat di larang ikut Festival music atau acara semacamnya, hal itu benar-benar menyiksa hati dan fikirannya karena music adalah jiwanya.
Arka mulai membuka suara, terlalu ketakutan, dia sempat di larang ikut Festival music atau acara semacamnya, hal itu benar-benar menyiksa hati dan fikirannya karena music adalah jiwanya.
"Ini karena ulah keluarga si Liza itu menyerang Arka, tau-tau mukul aja, Mah," Akhirnya Arka jujur.
Lebih baik jujur, karena kalau tidak pasti Ibu Arka akan menyalahkan lingkungan Arka saat ini. bahakan bisa sampai melarang untuk bernyanyi, hal itu yag terlintas difikiran Arka.
"Ya tuhan, feeling mamah benar, makannya Mamah coba menahan diri sama wanita itu walaupun kesal, wanita itu terlalu nekad."
"Aku juga inginnya menahan diri Mah, tapi wanita itu yang udah menyakiti mamah, mana Arka jadi gak bisa nahan emosi."
"kamu harus hati-hati Arka, pergi sekolah bareng temanmu untuk jaga-jaga."
"orangnya kemarin di tangkep polisi mah, mudah-mudahan jera, dia terbukti bikin ulah duluan sama Arka."
Arka tidak cerita bahwa dia juga hampir di tahan, dan diceramahi habis-habisan oleh polisi, karena ikut memukul, sempat di lucuti pakaiannya ditanyai berbagai pertanyaan dengan begitu kasar, untuk ada Pak Firman yang membantunya megurusi itu semua, Arka tidak ingin Ibunya terluka mendengar keterangan yang lebih lengkap.
***
Hari ini libur, setelah dua hari krmarin Arka mengikuti Festival di daerah Bogor diikuti daerah Bekasi hari selanjutnya, Arka merasa beruntung karena di biyayai dan diberi uang transportasi oleh pak Firman, entah jasanya sudah sebesar apa dan Arka sudah menabung balas budi seberapa banyak pada gurunya yang dari kelas 1 SMA sudah optimis pada kemampuan gila Arka, festifal menguras tenaga karena aksi panggung yang sangat atraktif sekaligus harus menjaga control vokalnya.
Hari libur, Arka habis shalat subuh langsung tidur kembali karena badannya sangat kelelahan dengan aktifitas berlebihan dalam beberapa hari ini, Arka lebih rajin untuk shalat yang biasanya malas, Arka selalu berdoa supaya ada jalan agar dia bisa sukses. Arka memejamkan mata hingga tidak terasa sudah pukul 9 pagi.
"Kak, ada yang cariin Kakak" Nadhira berkata setelah sebelumnya masuk ke kamar Arka.
"Aiapa?" kata Arka sambil tidak merubah posisi tiduran merasakan punggung yang pegal
"Aku gak pernah lihat, orangnya udah dewasa, tapi tampan sih, mungkin usia nya 30 tahun."
"Aiapa?" kata Arka sambil tidak merubah posisi tiduran merasakan punggung yang pegal
"Aku gak pernah lihat, orangnya udah dewasa, tapi tampan sih, mungkin usia nya 30 tahun."
"Pria dewasa?, nyariin kakak?" Arka berkata sambil bangkit resah,wajahnya memerah dalam hitungan detik.
"Apa pria yang beberapa hari lalu mukulin gua?" Gumam Arka marah.
Arka mengepalkan tangan, mengabil tongkat pemukul yang ada dikamarnya dengan kasar, benaknya saat itu berfikir berani-beraninya langsung ke rumah, pria itu benar-benar cari mati, Kaki Arka menendang pintu kamarnya secara terbuka lebar penuh emosi dan menjadi buas dalam hitungan detik
"berani-beraninya lu dateng ke rumah gua? Bajingan...." Bentak Arka sambil mengancam dengan alat pukul yang ada di tangannya.
Pria yang duduk di sofa itu kaget, sambil mengelus dada, di sampingnya juga duduk Pak Firman
Sepasang mata Arka terbuka, dia tersadar pria dihadapannya berbeda dari yang waktu itu menyerang, pria berkacamata, berpakaian rapi dan mahal, juga tercium aroma wangi parfume mahal yang menandakan tingakat derajat tinggi, terlihat sekilas bahwa pria itu orang penting.
"Maafkan saya pak" Arka menundukan kepala, menggenggam alat pukul dengan bergetar.
Senyum melingkar dari pria asing itu, membuat perasaan Arka lebih tenang, karena tidak ada masalah yang akan datang lebih besar.
"Tidak apa-apa!" ucap Marco
"Saya kira pria yang kemarin datang!" kata Arka gugup
"Jadi anak didik saya kemarin di serang oleh berandalan tiba-tiba, mungkin dia masih trauma," Pak Firman mencoba menjelaskan dan membantu karena melihat tingkah Arka yang hanya bisa bergetar karena malu.
"berani-beraninya lu dateng ke rumah gua? Bajingan...." Bentak Arka sambil mengancam dengan alat pukul yang ada di tangannya.
Pria yang duduk di sofa itu kaget, sambil mengelus dada, di sampingnya juga duduk Pak Firman
Sepasang mata Arka terbuka, dia tersadar pria dihadapannya berbeda dari yang waktu itu menyerang, pria berkacamata, berpakaian rapi dan mahal, juga tercium aroma wangi parfume mahal yang menandakan tingakat derajat tinggi, terlihat sekilas bahwa pria itu orang penting.
"Maafkan saya pak" Arka menundukan kepala, menggenggam alat pukul dengan bergetar.
Senyum melingkar dari pria asing itu, membuat perasaan Arka lebih tenang, karena tidak ada masalah yang akan datang lebih besar.
"Tidak apa-apa!" ucap Marco
"Saya kira pria yang kemarin datang!" kata Arka gugup
"Jadi anak didik saya kemarin di serang oleh berandalan tiba-tiba, mungkin dia masih trauma," Pak Firman mencoba menjelaskan dan membantu karena melihat tingkah Arka yang hanya bisa bergetar karena malu.
Arka mulai duduk dalam situasi asing dirumahnya sendiri, pria itu memperkenalkan diri sebagai Marco, dia juga menuturkan bahwa dia ikut serta dalam festival music Rock yang ada di Bekasi dan tertarik pada Arka untuk bekerjasama.
Arka gugup, tidak bisa dipungkiri walaupun dia terkesan badboy kasar dan tidak tahu malu, tapi dia bisa menempatkan diri dan bersikap sopan terhadap seseorang yang dipandangnya lebih tinggi seperti Guru dan para tokoh yang mestinya di hormati.
"Suara kamu bagus ketika live, aksi panggung kamu unik, luapan emosimu terasa saat berteriak, it's crazy at your age now." Ucap Marco yang seorang pengamat music dan profesional.
"Sayya cumann bisaa, teriak seperti itu, ilmu sayya kurang Pak!" Ucap Arka merendah dan bingung.
"Iya, tapi seusia mu itu tergolong hebat, skill mu juga hampir mendekati skill internasional, kenapa tidak pernah ikut audisi?"
"karena.. Karakter saya kurang kuat pak, biasanya yang dibutuhkan industri yang punya karakter kuat, saya sebetulnya minder, kalau harus sampai kesana!"
"Iya, tapi tehnik apapun kamu mampu, falseto, scream, growl, juga wajah kamu mendukung."
Arka menunduk masih bingung, walaupun pujian terlontar dari mulut Marco, tapi Arka hanya seorang pelajar yang tidak seutuhnya faham segala sesuatu tentang hal semacam perindustrian,
Memang gendre rock sudah memiliki kemunduran saat tahun 2000an, dan boomong saat tahun 1990, tapi Marco membutuhkan Arka untuk sebuah film yang banyak sekali adegan live nya... Film yang bertema tentang music dan mengulas masalah Vocal secara terperinci.
"Saya membutuhkan kamu untuk bekerjasama dalam sebuah film, menceritakan tentang gendre yang sering kamu mainkan, sekaligus mengangkat music Rock supaya kembali bersinar."
Hah film, apalagi sebuah film, Arka malah menggaruk kepalanya merasakan puyeng, belum apa-apa sudah membebani seperti ini, ditambah perasaan takut mengecewakan orang-orang yang berespetasi lebih padanya, padahal dia sendiri merasakan kegugupan yang luar biasa, sepertinya Arka butuh Bodrex Migrain saat ini, kemudian Arka memutar otak cara yang tepat untuk menolak secara halus niat baik Marco.
"Emhh... Gini pak Marco, menarikk sihh tatapii Saya ... Saya... gak bisa, karena emhh"
"Bayaran kamu tinggi loh!" ucap Marco
"Hah apa?" kalimat bayaran membuat Arka melongo tiba-tiba.
Tiba-tiba degupan jantungnya berdetak sebuah nama "duit..duit..duit..!"
Tapi Arka tidak bisa memutuskan, ini terlalu mendadak dan membingungkan.
"Bukankah kamu seorang crazy singer Arka!" Ucap Pak firman tiba-tiba.
"Appaa Pak?" Arka terperanjat dari lamunan.
"Iya, kamu seorang penyanyi yang tidak takut resiko apapun, berani dan tidak tahu malu, tapi berbanding dengan kemampuan yang kamu miliki, dalam skill yang tinggi, di Bandung sudah terkenal bahwa kamu orang yang seperti itu."
Jelas saja Arka tidak tahu bahwa di Bandung namanya sudah semakin meluas, karena dia tidak lihat sosial media, di HPnya saja merk Nokia jadul 3315, bukannya bersemangat Arka malah ciut
"Kalau begitu saya minta waktu pak, saya bingung."
"Baik Arka, tidak masalah, nanti WA saja ke No saya, lewat pak Firman juga tidak apa-apa masih ada banyak waktu karena rencana syuting, beberapa bulan lagi, kalau tidak salah setelah kamu selesai ujian skrip nya baru turun, jadi kamu tidak usah takut ujianmu terganggu,"
"Iya baik pak, Arka nanti akan bicara ke Pak Firman"
Iya , sebentar lagi ujian, Arka akan fokus belajar, setelah itu sepertinya dia akan mengambil tawaran itu, karena takut tidak ada kesempatan lagi, tapi Arka belum bisa mengutarakan keinginannya tersebut, karena saat itu kepalanya penuh kebingungan.
***
Semenjak kejadian pemukulan pada Arka, Arka selalu diikuti temannya yang bernama Tama dan Zaky, dia memanggil Arka bos, mereka juga mengikuti Motor Arka, saat pulang ataupun saat Arka ke cafe maupun mengajar di music school secara sukarela, jelas saja meraka mau karena selain sekolah tidak ada kegiatan lain, dan sering keluyuran juga, Tama juga seorang musisi jika ada acara sering ikut Arka, dan Zacky orang yang biasa saja tetapi kalau di ajak berkelahi dia jago dan dia adalah kakak sepupu dari Tiara.
Semenjak kejadian pemukulan pada Arka, Arka selalu diikuti temannya yang bernama Tama dan Zaky, dia memanggil Arka bos, mereka juga mengikuti Motor Arka, saat pulang ataupun saat Arka ke cafe maupun mengajar di music school secara sukarela, jelas saja meraka mau karena selain sekolah tidak ada kegiatan lain, dan sering keluyuran juga, Tama juga seorang musisi jika ada acara sering ikut Arka, dan Zacky orang yang biasa saja tetapi kalau di ajak berkelahi dia jago dan dia adalah kakak sepupu dari Tiara.
Sejak saat Arka mencium Tiara, Arka tidak berani menyapa walaupun sedikit, itu membuat tiara semakin down, seolah dipermainkan Tiarapun marah tetapi Arka tidak peka, sehingga Tiara menahan rasa kesal sendirian.
Di music school biasanya Tiara sering terlihat walaupun sebentar, tapi akhir-akhir ini tidak terlihat, Arka menahan rasa Karmanya sendirian, Arka sadar, Tiara tidak muncul akhir-akhir ini karena sikap acuhnya, dalam hati dia meminta maaf, dan sakit sendiri, namun berdoa semoga Tiara bisa fokus belajar dengan baik.
Arka tidak pulang karena perasaan galaunya, Zaky dan Tama juga disuruh pulang duluan, dia berdiam di Kedai dekat Music scool, namanya Kedai Mars Food Cijerah, entah apa yang membuat dia galau, mungkin kesepian dan rindu yang ditahan.
Arka kembali ke tempat Music school itu, untuk ambil barang yang tertinggal.
Tapi tanpa diduga ada seorang yang berada disana sendirian, yang seharusnya tempat ini sepi dari tadi,
Arka membuka pintu pelan.
Arka membuka pintu pelan.
"Tiara? sedang apa dia?" Gumam Arka dengan mata berbinar, dan perasaan kasih.
***
Bersambung
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar