Senin, 26 Agustus 2019

Part 1: Ciuman perpisahan

Muhammad Arka Pranata, remaja SMA yang ambisius, mandiri, memiliki tekad yang kuat, dan mempunyai suara emas, dia juga screamer Sekaligus vokalis yang handal dengan skill di atas rata-rata, tapi dimatanya terpancar sebuah dendam yang entah bisa terbalaskan atau tidak, sebuah kejadian menimpa keluarganya, akibat ulah pelakor yang merampas kebahagaiaan keluarganya, Ayah Arka, Aditya Pranata, menelantarkan dia, ibu, serta tiga anaknya yang lain, tidak ada kabar, dan tidak membekali dengan cukup sebelum kepergiannya, membuat beban di pundak Arka anak pertama keluarga tersebut menjadi bertambah secara tiba-tiba.
Seorang gadis belia cantik manja, namanya Putri, terlihat sedang mengobrol dengan menghampiri Arka yang sedang duduk tapi tatapannya tidak fokus pada lawan bicara.
"Maaf Arka, aku ingin minta pitus..." kata Putri tertunduk lesu.
Arka diam menatap sinis duduk sembarangan seperti raja.
"Eemm.. itu... Karena, aku sekarang kan kelas 3, harus fokus belajar, kamu terlalu baik buat aku, sebetulnya kamu tidak salah ap..."
"shut up!" pekik Arka
Putri tersentak kaget.
Arka lanjut berbicara "sanah pergi, kalau mau putus ya putus aja, berisik alesan lu banyak banget, bacottt."
Putri mulai pergi perlahan, dengan sedikit kaku dan takut melihat ekspresi Arka.
Sebelumnya, Arka satu jam lalu dapat Chat dari Amanda pacar Arka yang lain minta putus juga, sama halnya dengan Putri alasannya panjang lebar, berbelit-belit, padahal Arka tidak tanya alasannya, dan satu lagi Lina SMS satu hari sebelumnya minta putus juga.
Ya Arka punya pacar 4 sebelum dia berada dalam masalah keluarga, tiga diantaranya memaksa untuk diterima cintanya, rela di dua atau di tiga.
"wanita-wanita tidak berguna, dulu maksa-maksa sekarang kabur semua setelah tau gua jatuh miskin," gumam Arka dalam hati.
Selang dua hari, Arka duduk kembali di tempat nongkrongknya, biasanya dia sama temannya, tapi kali ini dia sendiri, dia selalu sendiri akhir-akhir ini, sambil memegang gitar, melantunkan lagu aliran metalcore, terkadang mengeluarkan tehnik scream dan growl, berteriak mengeluarkan emosi dan kegelisahan, teriakan itu penuh emosi dalam harmonisasi nada, sebagai pelampiasan-pelampiasan dalam rasa kesalnya, lalu dia menyanyikan kembali lagu penuh kepiluan, sekarang lebih slow dan santai dalam lirik yang penuh duka, setelah mengingat kelakuan ayahnya, dan mengingat tangisan ibunya yang terlanjur terekam oleh benak Arka,  tanpa sadar sepasang mata wanita cantik menatapnya, namanya Tiara, satu-satunya wanita yang tidak tahu kalau Arka punya 4 pacar, Tiara hanya tau Arka cuman pacarnya, kepolosannya membuat dia mudah dibodohi.
"Halo kak Arka!" sapa Tiara menatap Arka penuh cinta dan kasih.
"Mau apa kamu kesini? Mau minta putus?, cepat bilang aja, tapi gak usah pakai alasan, alasannya pasti basi."
"emhh.. Enggak ko."
Tiara mendekati Arka perlahan dan duduk disampingnya.
"Kak Arka , aku dengar kabar tidak mengenakan, apa itu benar, kakak harusnya cerita sama aku, aku ingin tau masalah sebenarnya."
Arka terdiam, tersenyum sinis, menganggap remeh pada Tiara, tapi enggan bercerita masalahnya, dia tidak suka terlihat lemah dan kalah seperti seorang pecundang, Arka juga tidak suka tatapan Tiara yang terlalu mengasihinya.
"pergi aja kamu yang jauh, nona cantik!"
Arka bergumam dalam hati "kalo elu denger gua jatuh miskin, paling lu kabur kaya yang lain, so baik lu."
Tiara tidak beranjak dari tempatnya dengan keras kepala walaupun tatapan Arka sudah suram dan tidak enak dilihat.
"kamu gak pergi juga?" ucap Arka kembali
Tiara menggeleng, "aku akan menunggu Kak Arka menceritakan keluh kesah kakak sama aku."
"hahaha, bocah!" tertawa Arka sangat jahat dan mengancam
Tiara masih terdiam penuh harap
"Sini lebih dekat kemari kalau berani, tapi jangan nyesel ya!"
Tiara mendekat lebih dekat dari sebelumnya, memandang mata Arka dengan tatapan sendu, lain halnya dengan Arka menatap balik dengan sinis, dan mencium tiara tiba-tiba cukup lama, gerakan tangan Arka juga liar sampai menyentuh bagian dada, dalam durasi yang cukup lama, Tiara memejamkan mata dan membalas Arka.
Setelah beberapa menit Arka melangkah beberapa meter jauh sambil menatap ke arah lain dengan nafas yang berat, lalu menatap mata Tiara kembali.
"Tiara aku minta sesuatu sama kamu!"
"Apa kak, kakak udah mulai mau cerita sama aku? Aku akan mendeng..."
"diam, berisik, bukan itu" potong Arka
"lalu apa kak?"
"Aku ingin kita putus, dan jangan lagi muncul dihadapanku!"
Tiara bengong terpaku, dan meneteskan air mata
 Arka berkata kembali "anggap ciuman tadi ciuman perpisahan, selamat tinggal!"
Arka berlalu pergi meninggalkan Tiara yang menangis sendiri.
***
Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar