"Halo crazy singer" sapa Putri
Putri adalah mantan Arka yang tiba-tiba minta putus, dia juga adalah selingkuhan Arka saat Arka masih berjaya dan nakal, itupun sebenarnya Arka terima karena Putri terus memaksa.
"Bikin kaget aja, kirain siapa Put, mau ngapain pagi-pagi gini? Kalau mau nyontek PR, Gua juga belum," ucap Arka.
"My Crazy singer, you are my pince".
"ngomong apa lu? Gak jelas", Ucap Arka dengan wajah bosannya.
"Aku ingin balikan sama kamu Arka, beneran aku masih cinta sama kamu!"
"Hahaha... Minta balikan? Hahaha bukannya dulu lu bilang, mau fokus ujian jadi gak mau pacaran dulu?"
"Oh ya, aku bilang seperti itu gitu?"
"Makannya gua udah bilang, kalau mau putus, putus aja, jangan ngarang alasan, kan kalau mau balikan lagi jadi ribet kan lu, pake segala lupa alesannya apa, kalau mau bohong itu ingetannya yang tajem dikit napa!" Ledek Arka dengan senyum jahilnya.
"Iya... Iya... Aku berubah fikiran, aku malah gak fokus belajar pas putus sama kamu, aku mau balikan lagi biar semangat belajar!"
"Awas loh di inget-inget lo barusan ngebohong apa aja, tar besok-besok ketahuan bohong lagi sama gua malu lu!"
"Aku gak bohong, aku emang masih sayang sama kamu!"
"gua udah belangsak sekarang, lu mau?"
"tentu aja, aku tulus sama kamu, aku ingin terus bersama kamu, mendampingi kamu dalam keadaan apapun, aku serius!, lagian kamu orang hebat pasti sebentar lagi bisa bangkit dan sukses."
"Ah, gua nya yang gak mau gimana dong," Ucap Arka sombong
"Emang kenapa?"
"Lu ngebosenin, bikin gua bete sepanjang hari, entar balikan gua bete terus lagi."
"Gak mungkin, kamu pasti bohong, aku dengar dari gosip sekolah gak kaya gitu ko ceritanya!"
"Emang gosipnya kaya gimana?"
"Kata orang-orang di sekolah kita, kamu gak bisa move on dari aku, sampe gak mau cari pacar lagi sampai sekarang! Aku denger gitu jadi kasian dan iba sama kamu."
"Lah PD banget nih orang-orangan sawah" gumam Arka pelan, dia berkata kembali dalam hati, " Tiara aja yang luar dalam kaya Bidadari gua tolak, apalagi elu."
"Terus kata orang, kamu juga jadi stres, nanyi teriak-teriak kaya orang gila di panggung, karena masih mikirin aku, aku gak tega lihatnya."
"Terserah lo deh, suka-suka."
"Tapi aku yakin, aku benar-benar mencintai mu Arka, aku ingin balikan dan menjalin keromantisan seperti dulu, apapun keadaan kamu sekarang aku terima."
"Uhhh so sweet"
Arka mendekat pada Putri, menempelkan wajah pada telinga Putri, Putripun memejamkan mata, seolah dia yakin Arka akan menciumnya.
"BODO AMAT!!!!" Teriak Arka di telinga Putri, cukup keras.
"Ih... Dasar orang gila, gua kaget tau... Arka gila... Awas ya."
Arka berlalu sambil memperlihatkan wajah jahil penuh kepuasan senyumnya melebar melihat Putri menggosok telinganya karena ulahnya itu, Arka bisa membedakan yang tulus dan yang tida terlihat dari cara dia menolak wanita dalam waktu yang berdekatan.
Teman-teman putri menghampiri.
"Mana tas branded yang lu janjiin put, lu udah kalah, tuh si Arka Nolak lu!"
"Ih gara-gara si Arka gila, gua jadi kalah taruhan deh!"
Putri memberikan tas mahal kepada salah satu temannya yang ada disampingnya itu.
Arka duduk, di sebuah warung di pinggir jalan, karena menunggu pak Firman, dia jajnian disitu karena Pak Firman masih ada urusan, rencananya akan pergi bersama mengambil formulir untuk acara Festival Music di Bogor, dan juga Bekasi untuk acara minggu depan.
Arka menunggu sambil main gitar di temat itu, dengan merdunya dia menyanyi, sepasang mata memperhatikan dia, sangat tajam, lalu menghampiri dengan tatapan suram.
"Siapa lu?" tanya Arka dengan wajah yang tidak enak karena di pandang dengan cara galak.
Pria berusia sekitar 30tahun itu, memukul wajah Arka tanpa aba-aba tanpa menjelaskan ia siapa, Arka tersungkur, posisi yang tidak menguntungkan itu membuat Arka berniat kabur, tapi tangan Arka di tarik, Arka di hajar secara membabi buta, Arka menepis sesekali.
Pria itu bangkit berdiri, matanya melihat gitar Arka, dan mengabil gitar itu dan memukulnya sampai hancur debagai luapan emosi.
"Woy gitar gua!!!" Teriak Arka, Arka bangkit menghampiri dengan luapan emosi menggebu, dari tadi dia bersabar dan berniat mundur dari pertikaian, karena lingkungan masih di Sekolah tapi kini emosinya memuncak saat barang kesayangannya hancur, menyerang pria itu secara mengila, dengan beberapa pukulan. Orang yang sama kuatnya itu melawan dan baku hantam terus berlanjut, sampai ada warga yang melerai tapi gagal.
"Siapa lo tiba-tiba mukul gua ? masalah Gua sama Elu apa?"
"Elu bocah ingusan, berani-beraninya gangguin Liza." Pria itu berbicara dengan intonasi yang tinggi.
"Hah, Liza? Si Kuntil Anak jelek itu?"
Mendengar nama Liza di sebut Arka langsung menyerang lagi tanpa ampun.
Sepertinya pria itu kerabat Liza si pelakor penghancur keluarga Arka, itulah yang terfikir saat itu oleh Arka.
Sebagian warga takut, dan salah satu dari warga memilih lapor polisi.
Mereka di amankan polisi karena meresahkan warga, beruntunglah pak Firman hadir, karena memang Arka sudah buat janji disitu, Pak Firman mendampingi Arka saat di bawa ke kantor polisi dan menjelaskan masalah tersebut, hingga menyelesaikannya. Pak Firman mendampingi Arka layaknya Ayah pada anak, dengan cara apapun di usahakan dan akhirnya Arka bisa pulang.
Pak Firman mengajak Arka kerumahnya menggunakan motornya,
"Kamu menginap saja disini nak, nanti saya telfon ibumu, menjelaskan, nanti kalau dia lihat wajah kamu babak belur, bisa-bisa dia khawatir!"
"Mohon maaf merepotkan bapak untuk kesskian kalinya!" Tertunduk, ucapan Arka begitu tulus.
Arka merasa beruntung, sekaligus heran kenapa pak Firman bisa sepeka itu, Arka memang tidak mau bertemu ibunya dalam keadaan penuh luka.
"Harusnya tadi kamu pergi dan menghindari perkelahian Arka, jangan di lawan!"
"Tadinya mau seperti itu pak, tapi orang itu menghancurkan gitar saya, saya jadi gak bisa nahan emosi." Arka menjelaskan dengan menunduk, mengingat itupun gitar pemberian pak Firman yang masih baru.
Pak Firman mengangguk tapi tidak melanjutkan ucapannya karena tidak ingin terlalu ikut campur, sementara identitas pria itu Pak Firman sudah tau saat penjelasan dikantor polisi.
Malam itu larut, Arka mandi malam-malam karena memang baru sampai di rumah Pak Firman malam hari, begitupun Pak Firman karena terlibat urusan Arka.
Arka duduk dengan segelas teh hangat dan meminumnya perlahan.
"Kak sudah mandinya? sini Tiara obatin lukanya!" Ucap Tiara sambil membawa kotak obat.
Wajah Arka kaget melihat Tiara datang tiba-tiba, andai Tiara bukan putri Pak Firman, mungkin Arka tidak bertemu malam-malam dengan dia seperti ini.
Tiara mengolesi obat merah pada luka, dan menambahkan perban setelahnya pada beberapa luka yang harus memakai perban, dan hanya mengolesi luka kecil lainnya, lukanya lumayan banyak sehingga dia mengobati lumayan lama, jarak yang begitu dekat membuat Arka tidak fokus, mungkin perasaan bahagia yang tidak diperlihatkan hanya karena komitmen ingin memberi jarak.
"sudah selesai"
"terimakasih, maaf merepotkan!"
"aku tidak masalah, aku senang kak bisa obatin Kak Arka, Tiara khawatir banget sama Kakak!"
"ya sudah cepat tidur, sudah malam!"
"baik, sampai jumpa pagi nanti yah kak!"
***
Pukul 4 subuh Arka terpejam, dikasur kamar tamu, suasana kamar yang asing membuat dia tidak bisa benar-benar terlelap, beberapa kali terbangun lalu tidur.
Suara langkah kaki yang pelanpun terdengar dari luar, diikuti suara pintu yang dibuka, ternyata kekamar tidur Arka arahnya, mengapa suara langkah kaki itu meghampiri? sekilas terfikir dari diri Arka, tapi dia hanya terdiam, lampu saat itu padam, tidak ada lampu tidur disana, hanya mengandalkan cahaya dari ventilasi yang terlalu redup.
Sebuah jemari membelai pada rambut Arka pelan, walau gelap tapi jemari itu bisa dipastikan milik seorang wanita remaja, tentu saja yang datang adalah Tiara, Arka tidak beranjak hanya terdiam dalam lamunan menahan rasa yang indah di bawah sana, yang sering terbangun otomatis jika memasuki waktu dinihari.
Kecupan diberikan oleh Tiara pada bibir Arka, setelah puas membelai Arka, hanya mengecup sedikit lalu hendak melangkah pergi, tangan Tiara ditahan oleh Arka yang sedang berbaring, lalu ditarik mendekati Arka.
"Mohon maaf kak.... Tiara mengganggu istirahatnya!" Bisik Tiara gugup takut membangunkan Ayah dan Ibunya.
"Kamu emang suka mengganggu ya, kalau aku gak tahan bagaimana?"
"Iya, maaf!" Tiara terlihat mulai melangkahkan kaki keluar.
Arka menahannya lagi, menarik dan membuat Tiara berada di atasnya menindih Arka.
"Maaf!" bisik tiara sekali lagi.
Arka menatap tiara yang samar terlihat dalam gelap lalu menciumi bibir Tiara dengan sangat rakus, bersemangat, karena keadaan pagi dingin membuat suasana berkali lipat menambah gairah dan sinyal dibawah yang tidak bisa dikendalikan dalam cuaca sesegar ini di dikota Bandung,
Beberapa menit berlalu dalam lumatan, Tiara mundur dengan ras takut dan kacau.
"Maaf mengaggu kakak, dan jugaTiara takut sama Ayah sebentr lagi masuk waktu subuh pasti bangun" Dia berbisik dalam jarak sangat dekat di telinga Arka.
Arka mengangguk, karena dia juga takut pada Pak Firman, sambil mengacak rambut penuh penyesalan.
Arka berada dalam posisi yang sama, tertegun, melamun, enggan untuk beranjak sedikitpun karena rasa yang bercampur antara rasa takut dan rasa yang tidak ia mengerti, tidak bisa menghilangkan bayangan yang barusan telah terjadi.
***
Arka diberi sarapan oleh Pak Firman dipagi itu, bersama keluarga yang lain, Ibu dan Tiara, dan adik Tiara yang masih kecil.
Arka tidak berani menatap Tiara sepanjang sarapan, begitupun Tiara,
Sumpah Arka bahwa akan menjauhi Tiara karena keadaanny itu, bagai lelucon yang Arka makan sendiri, begitu memalukan saat janji dalam diri diingkari, berbeda dengan Tiara yang menganggap semua ini adalah kemajuan atas usahanya untuk mengusik benteng pertahanan Arka yang keras, karena tidak ingin diganggu Tiara.
Mereka pergi kesekolah masing-masing, Tiara saat ini masih kelas satu dan bersekolah di tempat berbeda.
***
Di sekolah, Arka menjadi perbincangan karena lukanya, gosip-gosip dari warga saat itu, karena lokasi kejadian sangat berdekatan dengan lokasi sekolah, membuat berita cepat tersebar, guru-guru menghakimi, setiap ada yang mengajar tiap mata pelajaran selalu di awali dengan sindiran, murid disana sangat peka dan menatapi Arka meremehkan, mungkin kalau anak biasa sudah minder dan tidak mau bersekolah karena terpojok, lain halnya dengan Arka yang bermuka tebal, dan sudah banyak mendapatkan masalah dari kelas satu, dengan pelanggaran peraturan sekolah yang banyak, justru dikelas tiga ini dia sedikit lebih baik, karena sudah mulai bekerja untuk membantu ibunya membuat dia sedikit dewasa, tapi tetap saja amarahnya akan selalu meledak tanpa terkendali karena tabiatnya yang keras.
Saat banyak sindiran yang di dengar yang ia terima, dia malah tertawa jahil.
***
Bersambung Coy.. tunggu Part selanjutnya
Dewasa Itu Butuh Proses Coy, mohon maaf jika Arka selalu menyebalkan, kedepannya dia akan menjadi lebih baik, Karena proses pendewasaan, dan pelajaran hidup.