Kamis, 29 Agustus 2019

Part 8: Pria Asing

Arka pulang larut malam karena kerja dulu di sebuah cafe di daerah Pagarsih, secara diam-diam masuk kekamar, karena tidak mau luka di wajahnya kelihatan ibu, hanya sapaan dari kejauhan yang dia berikan pada ibu pertanda sudah pulang.
"Mah, Arka tidur duluan, tadi udah mandi ko"
"Makan dulu, Arka!" Teriak Ibu
"Udah ko, ditraktir temen tadi," ucap Arka berteriak dari dalam kamar tidak setor wajah samasekali.
kruyukkk suara perut Arka.
"Hah, gila laper banget, Madesu banget sih Aing, " Gumam Arka sambil mendaratkan badannya di kasurnya yang tidak empuk karena terbuat dari kapuk.
Mata Arka terjaga sampai tengah malam, walaupun lampu sudah dimatikan tidak membuat Arka ngantuk karen terlalu lapar, Arka pergi kedapur ia yakin tengah malam seperti ini tidak ada siapa-siapa di dapur.
Perlahan mengendap, sesekali menoleh kekiri dan ke kanan, terlihat tempat nasi di meja makan, sehingga membuat guratan senyum bahagia, yang mebuat Arka setengah berlali lalu jingkrak kegirangan, dengan tatapan penuh kerakusan dibukanya tempat nasi dan lauk itu.
"Jrittt, tinggal nasi doang, sial banget gua" Kata Arka sambil mengambil nasi saja mencoba ikhlas.
"humayyan (lumayan)" Gumam Arka dengan nasi penuh di mulut.
Lampu menyala tiba-tiba, tidak sempat kemana mana dengan nasi masih dimulut, dia menoleh ke arah belakang tepatnya ke saklar lampu.
"Mamah?" gumamnya sambil mengunyah lalu memalingkan wajah untuk menutupi keadaan.
"Arka, kamu bikin kaget saja, kirain ada tikus masuk dapur."
Ibu Arka menghampiri anaknya, mungkin juga feeleng Ibu Arka menelaah wajah anaknya yang dari kemarin seolah menghindar, bola mata Ibu Arka terbuka lebar, menghampiri Arka, mengelus kepala dan memperhatikan luka.
"Aa Kamu kenapa? Berkelahi dengan siapa?, kamu buat masalah?"
Arka cuman terdiam sambil masih mengunyah karena terlalu lapar.
"Kamu kenapa selalu saja buat orang tua cemas, dari SMP sering berkelahi, Mamah kira kamu sekarang udah berubah, masih tetap saja bikin Mamah takut, maneh teh geus jebrog ." Pekik Ibu Arka
Arka sungguh tidak ada ide sedikitpun untuk mengarang cerita apalagi harus jujur, supaya ibunya tidak khawatir, saking tidak ada idenya, Arka hanya mampu menambah nasi kemulutnya dengan lahap.
"Mulai besok, kamu selain sekolah gak boleh kemana-mana lagi, mamah udah gak percaya lagi sama lingkungan tempatmu main atau kerja."
"Jangan mah, Ini semua gak ada hubungannya sama tempat Arka kerja Mah"
Arka mulai membuka suara, terlalu ketakutan, dia sempat di larang ikut Festival music atau acara semacamnya, hal itu benar-benar menyiksa hati dan fikirannya karena music adalah jiwanya.
"Ini karena ulah keluarga si Liza itu menyerang Arka, tau-tau mukul aja, Mah," Akhirnya Arka jujur.
Lebih baik jujur, karena kalau tidak pasti Ibu Arka akan menyalahkan lingkungan Arka saat ini. bahakan bisa sampai melarang untuk bernyanyi, hal itu yag terlintas difikiran Arka.
"Ya tuhan, feeling mamah benar, makannya Mamah coba menahan diri sama wanita itu walaupun kesal, wanita itu terlalu nekad."
"Aku juga inginnya menahan diri Mah, tapi wanita itu yang udah menyakiti mamah, mana Arka jadi gak bisa nahan emosi."
"kamu harus hati-hati Arka, pergi sekolah bareng temanmu untuk jaga-jaga."
"orangnya kemarin di tangkep polisi mah, mudah-mudahan jera, dia terbukti bikin ulah duluan sama Arka."
Arka tidak cerita bahwa dia juga hampir di tahan, dan diceramahi habis-habisan oleh polisi, karena ikut memukul, sempat di lucuti pakaiannya ditanyai berbagai pertanyaan dengan begitu kasar, untuk ada Pak Firman yang membantunya megurusi itu semua, Arka tidak ingin Ibunya terluka mendengar keterangan yang lebih lengkap.
***

Hari ini libur, setelah dua hari krmarin Arka mengikuti Festival di daerah Bogor diikuti daerah Bekasi hari selanjutnya, Arka merasa beruntung karena di biyayai dan diberi uang transportasi oleh pak Firman, entah jasanya sudah sebesar apa dan Arka sudah menabung balas budi seberapa banyak pada gurunya yang dari kelas 1 SMA sudah optimis pada kemampuan gila Arka, festifal menguras tenaga karena aksi panggung yang sangat atraktif sekaligus harus menjaga control vokalnya. 
Hari libur, Arka habis shalat subuh langsung tidur kembali karena badannya sangat kelelahan dengan aktifitas berlebihan dalam beberapa hari ini, Arka lebih rajin untuk shalat yang biasanya malas, Arka selalu berdoa supaya ada jalan agar dia bisa sukses. Arka memejamkan mata hingga tidak terasa sudah pukul 9 pagi.
"Kak, ada yang cariin Kakak" Nadhira berkata setelah sebelumnya masuk ke kamar Arka.
"Aiapa?" kata Arka sambil tidak merubah posisi tiduran merasakan punggung yang pegal
"Aku gak pernah lihat, orangnya udah dewasa, tapi tampan sih, mungkin usia nya 30 tahun."
"Pria dewasa?, nyariin kakak?" Arka berkata sambil bangkit resah,wajahnya memerah dalam hitungan detik.
"Apa pria yang beberapa hari lalu mukulin gua?"  Gumam Arka marah.
Arka mengepalkan tangan, mengabil tongkat pemukul yang ada dikamarnya dengan kasar, benaknya saat itu berfikir berani-beraninya langsung ke rumah, pria itu benar-benar cari mati, Kaki Arka menendang pintu kamarnya secara terbuka lebar penuh emosi dan menjadi buas dalam hitungan detik
"berani-beraninya lu dateng ke rumah gua? Bajingan...." Bentak Arka sambil mengancam dengan alat pukul yang ada di tangannya.
Pria yang duduk di sofa itu kaget, sambil mengelus dada, di sampingnya juga duduk Pak Firman
Sepasang mata Arka terbuka, dia tersadar pria dihadapannya berbeda dari yang waktu itu menyerang, pria berkacamata, berpakaian rapi dan mahal, juga tercium aroma wangi parfume mahal yang menandakan tingakat derajat tinggi, terlihat sekilas bahwa pria itu orang penting.
"Maafkan saya pak" Arka menundukan kepala, menggenggam alat pukul dengan bergetar.
Senyum melingkar dari pria asing itu, membuat perasaan Arka lebih tenang, karena tidak ada masalah yang akan datang lebih besar.
"Tidak apa-apa!" ucap Marco
"Saya kira pria yang kemarin datang!" kata Arka gugup
"Jadi anak didik saya kemarin di serang oleh berandalan tiba-tiba, mungkin dia masih trauma," Pak Firman mencoba menjelaskan dan membantu karena melihat tingkah Arka yang hanya bisa bergetar karena malu.
Arka mulai duduk dalam situasi asing dirumahnya sendiri, pria itu memperkenalkan diri sebagai Marco, dia juga menuturkan bahwa dia ikut serta dalam festival music Rock yang ada di Bekasi dan tertarik pada Arka untuk bekerjasama.
Arka gugup, tidak bisa dipungkiri walaupun dia terkesan badboy kasar dan tidak tahu malu, tapi dia bisa menempatkan diri dan bersikap sopan terhadap seseorang yang dipandangnya lebih tinggi seperti Guru dan para tokoh yang mestinya di hormati.
"Suara kamu bagus ketika live, aksi panggung kamu unik, luapan emosimu terasa saat berteriak, it's crazy at your age now." Ucap Marco yang seorang pengamat music dan profesional.
"Sayya cumann bisaa, teriak seperti itu, ilmu sayya kurang Pak!" Ucap Arka merendah dan bingung.
"Iya, tapi seusia mu itu tergolong hebat, skill mu juga hampir mendekati skill internasional, kenapa tidak pernah ikut audisi?"
"karena.. Karakter saya kurang kuat pak, biasanya yang dibutuhkan industri yang punya karakter kuat, saya sebetulnya minder, kalau harus sampai kesana!"
"Iya, tapi tehnik apapun kamu mampu, falseto, scream, growl, juga wajah kamu mendukung."
Arka menunduk masih bingung, walaupun pujian terlontar dari mulut Marco, tapi Arka hanya seorang pelajar yang tidak seutuhnya faham segala sesuatu tentang hal semacam perindustrian,
Memang gendre rock sudah memiliki kemunduran saat tahun 2000an, dan boomong saat tahun 1990,  tapi Marco membutuhkan Arka untuk sebuah film yang banyak sekali adegan live nya... Film yang bertema tentang music dan mengulas masalah Vocal secara terperinci.
"Saya membutuhkan kamu untuk bekerjasama dalam sebuah film, menceritakan tentang gendre yang sering kamu mainkan, sekaligus mengangkat music Rock supaya kembali bersinar."
Hah film, apalagi sebuah film, Arka malah menggaruk kepalanya merasakan puyeng, belum apa-apa sudah membebani seperti ini, ditambah perasaan takut mengecewakan orang-orang yang berespetasi lebih padanya, padahal dia sendiri merasakan kegugupan yang luar biasa, sepertinya Arka butuh Bodrex Migrain saat ini, kemudian Arka memutar otak cara yang tepat untuk menolak secara halus niat baik Marco.
"Emhh... Gini pak Marco, menarikk sihh tatapii Saya ... Saya...  gak bisa, karena emhh"
"Bayaran kamu tinggi loh!" ucap Marco
"Hah apa?" kalimat bayaran membuat Arka melongo tiba-tiba.
Tiba-tiba degupan jantungnya berdetak sebuah nama "duit..duit..duit..!"
Tapi Arka tidak bisa memutuskan, ini terlalu mendadak dan membingungkan.
"Bukankah kamu seorang crazy singer Arka!" Ucap Pak firman tiba-tiba.
"Appaa Pak?" Arka terperanjat dari lamunan.
"Iya, kamu seorang penyanyi yang tidak takut resiko apapun, berani dan tidak tahu malu, tapi berbanding  dengan kemampuan yang kamu miliki, dalam skill yang tinggi, di Bandung sudah terkenal bahwa kamu orang yang seperti itu."
Jelas saja Arka tidak tahu bahwa di Bandung namanya sudah semakin meluas, karena dia tidak lihat sosial media, di HPnya saja merk Nokia jadul 3315, bukannya bersemangat Arka malah ciut
"Kalau begitu saya minta waktu pak, saya bingung."
"Baik Arka, tidak masalah, nanti WA saja ke No saya, lewat pak Firman juga tidak apa-apa masih ada banyak waktu karena rencana syuting, beberapa bulan lagi, kalau tidak salah setelah kamu selesai ujian skrip nya baru turun, jadi kamu tidak usah takut ujianmu terganggu,"
"Iya baik pak, Arka nanti akan bicara ke Pak Firman"
Iya , sebentar lagi ujian, Arka akan fokus belajar, setelah itu sepertinya dia akan mengambil tawaran itu, karena takut tidak ada kesempatan lagi, tapi Arka belum bisa mengutarakan keinginannya tersebut, karena saat itu kepalanya penuh kebingungan.
***
Semenjak kejadian pemukulan pada Arka, Arka selalu diikuti temannya yang bernama Tama dan Zaky, dia memanggil Arka bos, mereka juga mengikuti Motor Arka, saat pulang ataupun saat Arka ke cafe maupun mengajar di music school secara sukarela, jelas saja meraka mau karena selain sekolah tidak ada kegiatan lain, dan sering keluyuran juga, Tama juga seorang musisi jika ada acara sering ikut Arka, dan Zacky  orang yang biasa saja tetapi kalau di ajak berkelahi dia jago dan dia adalah kakak sepupu dari Tiara.
Sejak saat Arka mencium Tiara, Arka tidak berani menyapa walaupun sedikit, itu membuat tiara semakin down, seolah dipermainkan Tiarapun marah tetapi Arka tidak peka, sehingga Tiara menahan rasa kesal sendirian.
Di music school biasanya Tiara sering terlihat walaupun sebentar, tapi akhir-akhir ini tidak terlihat, Arka menahan rasa Karmanya sendirian, Arka sadar, Tiara tidak muncul akhir-akhir ini karena sikap acuhnya, dalam hati dia meminta maaf, dan sakit sendiri, namun berdoa semoga Tiara bisa fokus belajar dengan baik.
Arka tidak pulang karena perasaan galaunya, Zaky dan Tama juga disuruh pulang duluan, dia berdiam di Kedai dekat Music scool, namanya Kedai Mars Food Cijerah, entah apa yang membuat dia galau, mungkin kesepian dan rindu yang ditahan.
Arka kembali ke tempat Music school itu, untuk ambil barang yang tertinggal.
Tapi tanpa diduga ada seorang yang berada disana sendirian, yang seharusnya tempat ini sepi dari tadi,
Arka membuka pintu pelan.
"Tiara? sedang apa dia?" Gumam Arka dengan mata berbinar, dan perasaan kasih.
***
Bersambung

Part 7: Baku hantam

"Halo crazy singer" sapa Putri
Putri adalah mantan Arka yang tiba-tiba minta putus, dia juga adalah selingkuhan Arka saat Arka masih berjaya dan nakal, itupun sebenarnya Arka terima karena Putri terus memaksa.
"Bikin kaget aja, kirain siapa Put, mau ngapain pagi-pagi gini? Kalau mau nyontek PR, Gua juga belum," ucap Arka.
"My Crazy singer, you are my pince".
"ngomong apa lu? Gak jelas", Ucap Arka dengan wajah bosannya.
"Aku ingin balikan sama kamu Arka, beneran aku masih cinta sama kamu!"
"Hahaha... Minta balikan? Hahaha bukannya dulu lu bilang, mau fokus ujian jadi gak mau pacaran dulu?"
"Oh ya, aku bilang seperti itu gitu?"
"Makannya gua udah bilang, kalau mau putus, putus aja, jangan ngarang alasan, kan kalau mau balikan lagi jadi ribet kan lu, pake segala lupa alesannya apa, kalau mau bohong itu ingetannya yang tajem dikit napa!" Ledek Arka dengan senyum jahilnya.
"Iya... Iya... Aku berubah fikiran, aku malah gak fokus belajar pas putus sama kamu, aku mau balikan lagi biar semangat belajar!"
"Awas loh di inget-inget lo barusan  ngebohong apa aja, tar besok-besok ketahuan bohong lagi sama gua malu lu!"
"Aku gak bohong, aku emang masih sayang sama kamu!"
"gua udah belangsak sekarang, lu mau?"
"tentu aja, aku tulus sama kamu, aku ingin terus bersama kamu, mendampingi kamu dalam keadaan apapun, aku serius!, lagian kamu orang hebat pasti sebentar lagi bisa bangkit dan sukses."
"Ah, gua nya yang gak mau gimana dong," Ucap Arka sombong
"Emang kenapa?"
"Lu ngebosenin, bikin gua bete sepanjang hari, entar balikan gua bete terus lagi."
"Gak mungkin, kamu pasti bohong, aku dengar dari gosip sekolah gak kaya gitu ko ceritanya!"
"Emang gosipnya kaya gimana?"
"Kata orang-orang di sekolah kita, kamu gak bisa move on dari aku, sampe gak mau cari pacar lagi sampai sekarang! Aku denger gitu jadi kasian dan iba sama kamu."
"Lah PD banget nih orang-orangan sawah" gumam Arka pelan, dia berkata kembali dalam hati, " Tiara aja yang luar dalam kaya Bidadari gua tolak, apalagi elu."
"Terus kata orang, kamu juga jadi stres, nanyi teriak-teriak kaya orang gila di panggung, karena masih mikirin aku, aku gak tega lihatnya."
"Terserah lo deh, suka-suka."
"Tapi aku yakin, aku benar-benar mencintai mu Arka, aku ingin balikan dan menjalin keromantisan seperti dulu, apapun keadaan kamu sekarang aku terima."
"Uhhh so sweet"
Arka mendekat pada Putri, menempelkan wajah pada telinga Putri, Putripun memejamkan mata, seolah dia yakin Arka akan menciumnya.
"BODO AMAT!!!!" Teriak Arka di telinga Putri, cukup keras.
"Ih... Dasar orang gila, gua kaget tau... Arka gila... Awas ya."
Arka berlalu sambil memperlihatkan wajah jahil penuh kepuasan senyumnya melebar melihat Putri menggosok telinganya karena ulahnya itu, Arka bisa membedakan yang tulus dan yang tida terlihat dari cara dia menolak wanita dalam waktu yang berdekatan.
Teman-teman putri menghampiri.
"Mana tas branded yang lu janjiin put, lu udah kalah, tuh si Arka Nolak lu!"
"Ih gara-gara si Arka gila, gua jadi kalah taruhan deh!"
Putri memberikan tas mahal kepada salah satu temannya yang ada disampingnya itu.
Arka duduk, di sebuah warung di pinggir jalan, karena menunggu pak Firman, dia jajnian disitu karena Pak Firman masih ada urusan, rencananya akan pergi bersama mengambil formulir untuk acara Festival Music di Bogor, dan juga Bekasi untuk acara minggu depan.
Arka menunggu sambil main gitar di temat itu, dengan merdunya dia menyanyi, sepasang mata memperhatikan dia, sangat tajam, lalu menghampiri dengan tatapan suram.
"Siapa lu?" tanya Arka dengan wajah yang tidak enak karena di pandang dengan cara galak.
Pria berusia sekitar 30tahun itu, memukul wajah Arka tanpa aba-aba tanpa menjelaskan ia siapa, Arka tersungkur, posisi yang tidak menguntungkan itu membuat Arka berniat kabur, tapi tangan Arka di tarik, Arka di hajar secara membabi buta, Arka menepis sesekali.
Pria itu bangkit berdiri, matanya melihat gitar Arka, dan mengabil gitar itu dan memukulnya sampai hancur debagai luapan emosi.
"Woy gitar gua!!!" Teriak Arka, Arka bangkit menghampiri dengan luapan emosi menggebu, dari tadi dia bersabar dan berniat mundur dari pertikaian, karena lingkungan masih di Sekolah tapi kini emosinya memuncak saat barang kesayangannya hancur, menyerang pria itu secara mengila, dengan beberapa pukulan. Orang yang sama kuatnya itu melawan dan baku hantam terus berlanjut, sampai ada warga yang melerai tapi gagal.
"Siapa lo tiba-tiba mukul gua ? masalah Gua sama Elu apa?"
"Elu bocah ingusan, berani-beraninya gangguin Liza." Pria itu berbicara dengan intonasi yang tinggi.
"Hah, Liza? Si Kuntil Anak jelek itu?"
Mendengar nama Liza di sebut Arka langsung menyerang lagi tanpa ampun. 
Sepertinya pria itu kerabat Liza si pelakor penghancur keluarga Arka, itulah yang terfikir saat itu oleh Arka.
Sebagian warga takut, dan salah satu dari warga memilih lapor polisi.
Mereka di amankan polisi karena meresahkan warga, beruntunglah pak Firman hadir, karena memang Arka sudah buat janji disitu, Pak Firman mendampingi Arka saat di bawa ke kantor polisi dan menjelaskan masalah tersebut, hingga menyelesaikannya. Pak Firman mendampingi Arka layaknya Ayah pada anak, dengan cara apapun di usahakan dan akhirnya Arka bisa pulang.
Pak Firman mengajak Arka kerumahnya menggunakan motornya,
"Kamu menginap saja disini nak, nanti saya telfon ibumu, menjelaskan, nanti kalau dia lihat wajah kamu babak belur, bisa-bisa dia khawatir!"
"Mohon maaf merepotkan bapak untuk kesskian kalinya!" Tertunduk, ucapan Arka begitu tulus.
Arka merasa beruntung, sekaligus heran kenapa pak Firman bisa sepeka itu, Arka memang tidak mau bertemu ibunya dalam keadaan penuh luka.
"Harusnya tadi kamu pergi dan menghindari perkelahian Arka, jangan di lawan!"
"Tadinya mau seperti itu pak, tapi orang itu menghancurkan gitar saya, saya jadi gak bisa nahan emosi." Arka menjelaskan dengan menunduk, mengingat itupun gitar pemberian pak Firman yang masih baru.
Pak Firman mengangguk tapi tidak melanjutkan ucapannya karena tidak ingin terlalu ikut campur, sementara identitas pria itu Pak Firman sudah tau saat penjelasan dikantor polisi.
Malam itu larut, Arka mandi malam-malam karena memang baru sampai di rumah Pak Firman malam hari, begitupun Pak Firman karena terlibat urusan Arka.
Arka duduk dengan segelas teh hangat dan meminumnya perlahan.
"Kak sudah mandinya? sini Tiara obatin lukanya!" Ucap Tiara sambil membawa kotak obat.
Wajah Arka kaget melihat Tiara datang tiba-tiba, andai Tiara bukan putri Pak Firman, mungkin Arka tidak bertemu malam-malam dengan dia seperti ini.
Tiara mengolesi obat merah pada luka, dan menambahkan perban setelahnya pada beberapa luka yang harus memakai perban, dan hanya mengolesi luka kecil lainnya, lukanya lumayan banyak sehingga dia mengobati lumayan lama, jarak yang begitu dekat membuat Arka tidak fokus, mungkin perasaan bahagia yang tidak diperlihatkan hanya karena komitmen ingin memberi jarak.
"sudah selesai"
"terimakasih, maaf merepotkan!"
"aku tidak masalah, aku senang kak bisa obatin Kak Arka, Tiara khawatir banget sama Kakak!"
"ya sudah cepat tidur, sudah malam!"
"baik, sampai jumpa pagi nanti yah kak!"
 ***

Pukul 4 subuh Arka terpejam, dikasur  kamar tamu, suasana kamar yang asing membuat dia tidak bisa benar-benar terlelap, beberapa kali terbangun lalu tidur.
Suara langkah kaki yang pelanpun terdengar dari luar, diikuti suara pintu yang dibuka, ternyata kekamar tidur Arka arahnya, mengapa suara langkah kaki itu meghampiri? sekilas terfikir dari diri Arka, tapi dia hanya terdiam, lampu saat itu padam, tidak ada lampu tidur disana, hanya mengandalkan cahaya dari ventilasi yang terlalu redup.
Sebuah jemari membelai pada rambut Arka pelan, walau gelap tapi jemari itu bisa dipastikan milik seorang wanita remaja, tentu saja yang datang adalah Tiara, Arka tidak beranjak hanya terdiam dalam lamunan menahan rasa yang indah di bawah sana, yang sering terbangun otomatis jika memasuki waktu dinihari.
Kecupan diberikan oleh Tiara pada bibir Arka, setelah puas membelai Arka, hanya mengecup sedikit lalu hendak melangkah pergi, tangan Tiara ditahan oleh Arka yang sedang berbaring, lalu ditarik mendekati Arka.
"Mohon maaf kak.... Tiara mengganggu istirahatnya!" Bisik Tiara gugup takut membangunkan Ayah dan Ibunya.
"Kamu emang suka mengganggu ya, kalau aku gak tahan bagaimana?"
"Iya, maaf!" Tiara terlihat mulai melangkahkan kaki keluar. 
Arka menahannya lagi, menarik dan membuat Tiara berada di atasnya menindih Arka.
"Maaf!" bisik tiara sekali lagi.
Arka menatap tiara yang samar terlihat dalam gelap lalu menciumi bibir Tiara dengan sangat rakus, bersemangat, karena keadaan pagi dingin membuat suasana berkali lipat menambah gairah dan sinyal dibawah yang tidak bisa dikendalikan dalam cuaca sesegar ini di dikota Bandung,
Beberapa menit berlalu dalam lumatan, Tiara mundur dengan ras takut dan kacau.
"Maaf mengaggu kakak, dan jugaTiara takut sama Ayah sebentr lagi masuk waktu subuh pasti bangun" Dia berbisik dalam jarak sangat dekat di telinga Arka.
Arka mengangguk, karena dia juga takut pada Pak Firman, sambil mengacak rambut penuh penyesalan.
Arka berada dalam posisi yang sama, tertegun, melamun, enggan untuk beranjak sedikitpun karena rasa yang bercampur antara rasa takut dan rasa yang tidak ia mengerti, tidak bisa menghilangkan bayangan yang barusan telah terjadi.

***
Arka diberi sarapan oleh Pak Firman dipagi itu, bersama keluarga yang lain, Ibu dan Tiara, dan adik Tiara yang masih kecil.
Arka tidak berani menatap Tiara sepanjang sarapan, begitupun Tiara,
Sumpah Arka bahwa akan menjauhi Tiara karena keadaanny itu, bagai lelucon yang Arka makan sendiri, begitu memalukan saat janji dalam diri diingkari, berbeda dengan Tiara yang menganggap semua ini adalah kemajuan atas usahanya untuk mengusik benteng pertahanan Arka yang keras, karena tidak ingin diganggu Tiara.
Mereka pergi kesekolah masing-masing, Tiara saat ini masih kelas satu dan bersekolah di tempat berbeda.
***
Di sekolah, Arka menjadi perbincangan karena lukanya, gosip-gosip dari warga saat itu, karena lokasi kejadian sangat berdekatan dengan lokasi sekolah, membuat berita cepat tersebar, guru-guru menghakimi, setiap ada yang mengajar tiap mata pelajaran selalu di awali dengan sindiran, murid disana sangat peka dan menatapi Arka meremehkan, mungkin kalau anak biasa sudah minder dan tidak mau bersekolah karena terpojok, lain halnya dengan Arka yang bermuka tebal, dan sudah banyak mendapatkan masalah dari kelas satu, dengan pelanggaran peraturan sekolah yang banyak, justru dikelas tiga ini dia sedikit lebih baik, karena sudah mulai bekerja untuk membantu ibunya membuat dia sedikit dewasa, tapi tetap saja amarahnya akan selalu meledak tanpa terkendali  karena tabiatnya yang keras.
Saat banyak sindiran  yang di dengar yang ia terima, dia malah tertawa jahil.
***
Bersambung Coy.. tunggu Part selanjutnya

Dewasa Itu Butuh Proses Coy, mohon maaf jika Arka selalu menyebalkan, kedepannya dia akan menjadi lebih baik, Karena proses pendewasaan, dan pelajaran hidup.

Rabu, 28 Agustus 2019

Part 6 : Pelakor Datang

Arka merasakan, meriang dengan suhu badan yang tinggi dari pagi, diapun memilih naik angkutan Kota ke Sekolah karena malas membawa motor dalam keadaan tidak enak badan, harusnya dia beristirahat hari itu, tapi karena merasa tidak parah, dia menjalankan aktifitas seperti biasa,
Siang hari tidak ada perubahan, dia berfikir obat warung tadi bisa membuat efek,  tapi ternyata tidak, sepulang dari CJ-Music shcool yang lokasinya bersampingan dengan rumah pak Firman itu, wajahnya pucat.
Dia menaiki angkutan umum kembali dengan malas saat waktunya pulang, sambil menundukan wajah, menahan rasa mual dan puyeng, dia perlahan menatap ke arah depan terlihat Tiara naik kendaraan itu juga.
"Tiara, kamu mau kemana? Kenap Bisa ada si angkot yg sama dengan Kakak?" tanya Arka
"Kak Arka pucat, aku lihat sepanjang ngajar di CJM ( CJ-Music School) gak fokus, aku ikut aja akhirnya, mastiin kakak  gak kenapa-kenapa dijalan," Kata Tiara dengan mimik serius
"lah.. Gak usah, kamu ini berlebihan, orang kakak baik-baik aja," Kata Arka.
Terlihat wajah Arka tidak suka dikasihani.
"kalau kakak pingsan gimana?." Ucap Tiara masih dengan wajah serius.
"lah Kakak pingsan, kamu juga gak bisa angkat kakak, lagian kakak gak pernah pingsan tuh, Sorry ya," ucap Arka bernada sombong.
Tiara diam saja tidak menanggapi
"Aku kaya hewan ternak aja diikutin kamu mulu ih," Kata Arka sambil menatap Tiara sebal
"Hewan ternak manapun pasti bahagia bisa diikutin gembala cantik kaya aku kak," ucap Tiara dengan mimik tegas penuh percaya diri
Sekarang Arka yang terdiam tetapi mulai tersenyum, mendengar ucapan Tiara.

***
Di rumah Arka terdengar percakapan wanita muda yang berusia lebih tua dari Arka 3 tahun, dia berucap dengan nada lembut namun menusuk hati perempuan manapun yang mendengarnya,
Liza, menyinggung Ibu Lidya mamah Arka, supaya berhenti SMS mantan suami Bu Lidya untuk meminta uang, padahal harusnya anak-anak Ibu Lidya memang masih tanggung jawab Ayah mereka, tapi wanita bernama Liza itu berkata dengan ilmu yang tidak cukup membolak-balikan fakta, dan palying victim, seolah dia yang paling benar layaknya pelakor kebanyakan yang ada di Indonesia, dia memang barbar sehingga Bu Lidya meneteskan air mata mendengar dia berucap.
Arka baru datang, diikuti Tiara yang ada di sampingnya,kadang di belakangnya mengekor dan tidak jauh. Arka kemudian melihat pemandangan asing yang tidak Arka sukai, dia belum tahu apa-apa tapi dia melihat jelas air mata Ibunya mengalir deras dengan mata yang membengkak.
Arka yang tempramen, berusaha menahan kebiasaanya itu, menekan suara menahan emosi menyapa Liza.
"heh maneh Awewe jurig, kuntil anak, rek naon sia kadieu. (wanita setan, kuntil anak mau apa lu kesini)"
"maaf... Aku kesini cuman ingin silaturahmi" kata Liza tidak tahu malu.
"Silaturahmi macam apa yang bisa buat ibu saya menangis? dasar orang gila!" Kata Arka menatap tajam, masih menahan Amarah karena Amarah Arka bisa lebih ini jika menyinggung masalah Ibunya.
"Tidak tahu ya, mungkin ibumu terlalu sensitif, aku hanya minta dia tidak SMS suami saya, suami saya keganggu tuh jadinya."
"Berisik, lu kuntilanak!" Pekik Arka
"Ibu kamu gak bisa didik kamu ya, pantesan bapak kamu gak betah sama ibu kamu, terus di tinggalin, dan lebih bahagia dengan aku," kata Liza berusaha menyembunyikan rasa takut, ia menutupi dengan geretakan.
Arka emosinya semakin memuncak, jika ada orang yang menuduh ibunya seperti itu dia tidak bisa mengendalikan emosi lagi, sebuah pot bunga terbuat dari tanah liat di lempar Arka tepat dihadapan Liza, yang membuat Liza ketakutan, suara pot yang pecah keras itu berhamburan, dengan cipratan tanah dan beberpa pecahan mengenai wajah Liza.
"Stop Arka!" teriak, Ibu Arka, "kamu masuk kamar saja tidak usah ikut campur urusan orang dewasa!" pinta Ibu dengan wajah sendu.
Arka tidak mendengarkan, dia terus menatap wajah Liza yang dia benci, mata Arka sudah memerah dengan amarah yang bergejolak.
"Mau pilih lengan, atau kaki dulu yang gua patahin, gua seumur hidup gak pernah mukul cewek, tapi pengeculaian sama lu, karena lu bukan manusia, Bangstt** !" Teriak Arka.
Liza, mundur kakinya gemetar.
Pot Keramik kembali di lempar Arka tepat di hadapan Liza, tapi Arka walaupun marah dia pakai perkiraan, dia tidak benar-benar mau mengenai tubuh wanita itu, Arka hanya ingin menyerang mental Liza, dia sebenarnya tidak bisa melukai wanita walaupun wanita itu jahat, tapi ekapersi Liza semakin tidak tahu malu dan semakin meledek keluarga Arka, lewat tatapan dia yang memperlihatkan penghinaan.
"Miskin banget yah, samapi masih SMS bapak kalian!"
Geretakan Arka dari tadi berubah menjadi emosi yang membabi buta, Arka tidak bisa menahannya lagi dia menghampiri Liza, hendak memukulinya, baru sempat satu cakaran mendarat diwajah Liza, tapi dihentikan oleh Ibu Arka, ditariknya badan anaknya itu sekuat Ibu Lidya bisa, karena bu Lidya tidak mau anaknya berada dalam masalah yang lebih besar lagi, kesabaran ibu Lidya terlalu istimewa dan berlebihan menurut Arka. Arkapun sedikit melemaskan ototnya, ketika tangan Ibu Lidya memegang erat bahunya, dan mendekap Anaknya penuh perhatian.
Liza berlari penuh gemetar, getaran yang hebat, hingga dia sempat terjatuh saat akan melarikan diri dengan sedikit luka cakar di wajahnya.
"Jangan lari kamu pelac**, lont**, binatang!" Teriak Arka memaki secara membabi buta, menendang pintu hingga melukai kakinya sendiri karena emosinya masih ada walaupun sudah ditenagkan Ibunya, tidak cukup untuk mengubur emosinya.
Mata Arka mulai menangkap ke Arah Tiara perlahan, yang dari tadi terdiam, melihat kejadian itu, terlihat tangan tiara bergetar luar biasa karena ketakutan, wajahnya pun pucat tidak tertolong, pasti Tiara yang anak rumahan dengan keluarga baik-baik saja, tidak pernah menyaksikan kejadian semacam ini. Arka dengan cepat menghampiri Tiara, karena rasa peka Arka terhadap mantan kekasih.
Arka berkata sangat pelan dan mengubur emosinya yang tadi dia keluarkan semuanya, dengan tujuan tidak membuat Tiara ketakutan.
"Maafkan aku Tiara, kamu jadi harus menyaksikan kejadian yang buat kmu takut!" Arka membelai Tiara lalu berteriak ke arah adiknya "Nadhira, ambilkan air hangat untuk Tiara, ajak dia masuk dan duduk!"
"aku tidak apa-apa" Tiara berucap dengan bergetar.
Betapapun jika dimasalalu Arka pernah berkata kasar pada Tiara, terutama saat mereka putus, itu hanya acting supaya Tiara bisa cepat melupakan Arka, tapi jika Tiara setakut ini Arka pasti tidak akan membiarkan, padahal hati Arka sendiri lebih kacau dari Tiara.
Arka masuk sendirian ke arah belakang rumah, karena merasakan badannya yang sudah meriang dari tadi semakin terasa, dia tidak mau semakin terlihat konyol dihadapan Tiara, lagi pula dia sudah titipkan Tiara bersama adiknya untuk minum dengan tenang.
Arka memejamkan matanya dan bersandar pada kursi, sekarang badan dan hatinya sudah sakit sepenuhnya, tidak lama setelah itu sepasang mata jelita melihat ke arah Arka, lalu menghampiri secara perlahan, membawa segelas Air hangat untuk Arka.
"Minum dulu Kak Arka, supaya lega!" ucap Tiara
"Kok gak pulang?" Kata Arka
"Gak bisa pulang sebelum melihat Kak Arka baik-baik aja, wajah kakak terlihat lebih pucat dari saat kakak mengajar tadi," Balas Tiara
"Sebentar lagi, juga baik-baik saja, aku sudah minum obat ko."
"Aku gak liat kakak minum obat"
"Aku kan kalau minum obat gak pernah laporan ke Kamu."
Tiara terdiam sambil menatap Arka penuh kasih
"Jangan tatap aku kaya gitu, aku gak suka dikasihani," Arka berkata kembali sambil memalingkan wajah kesal.
"Maaf!"
Mereka berdua saat ini berada dalam situasi hening, keduanya sama-sama diam, hanya tatapan sendu dari keuanya yang bisa menggambarkan suasana ditempat itu, walaupun demikian, keduanya tidak berani saling tatap
Terdengar hembusan nafas kasar Arka, sambil mencengkram kursi dari samping, diiringi tatapan yang suram. Dia berusaha mengucapan sesuatu pada Tiara setelah itu, hal yang sebenarnya dia benci untuk membahasnya.
"Kamu sekarang udah taukan, kenapa aku gak mau balikan sama kamu?, aku gak mau kamu menyaksikan hal memalukan kaya gini, ini baru satu sisi saja belum yang lainnya," jelas Arka dengan mimik yang serius.
Tiara diam saja, takut slah ucap dihadapan Arka
"Apalagi kamu gak akan bisa bahagia sama aku, aku udah gak bisa ajak jalan lagi ke steakhouse ataupun coffee shop favorit kamu, ajak jalan kamu, nonton atau yang lainnya, gak bisa, apalagi keluar kota kaya dulu kita sering pergi. Kamu tahu, ke Lembang yang deket aja aku gak ada uang sekarang."
"Gak apa-apa , Tiara gak butuh yang kaya gitu, Tiara cuman mau nemenin Kak Arka aja"
"Kamu harus lebih realistis sedikit, kamu masih pelajar, kalau cuman buat susah-susahan yah gak usah pacaran sekalian."
"tapi aku beneran mau nemenin Arka dalam keadaan apapun!"
Menggaruk kepala dengan kasar, karena sifat Tiara yang tidak realistis tersebut.
"Kalau kamu masih mau ngotot kaya gitu, mending nanti sama Suami kamu kelak, jodoh gak ad yang tahu, emang kamu gak ngerasa rugi barengan susah nemenin aku tau-taunya kita bukan jodoh."
Tiara cuman bisa terdiam mendengar Arka, memang dia hanya seorang siswi yang tidak tahu apa-apa apalagi untuk kehidupan setelah sekolah dia tidak pernah tahu seperti apa, tapi jika meninggalkan Arka sendirian dia juga merasakan rasa sakit.
"Sekarang kamu main aja sama Nadhira sana , kalau  mau senang-senang sama adik aku aku ijinin kamu kesini, tapi kalau kamu niatnya ngeratapin hidup aku lebih baik pulang saja, belajar, dan lakukan hobby kamu, supaya gak sia-sia masa remaja Kamu!"
"Kak Arka juga masih remaja, tapi sudah kehilangan masa remajanya dan sibuk untuk  bekerja."
"Iya, makannya aku gak mau kamu kaya aku, lagian Ayah kamu seorang yang hebat, pasti anaknya juga hebat."
"Ya sudah kalau gitu, aku gak bakal minta balikian lagi kaya kemarin-kemarin, tapi tolong aku ingin kakak berkata jujur dulu, apa kaka masih cinta sama aku?"
"Buat apa aku jawab?"
"aku penasaran aja, kenapa kakak masih simpan poto aku, tadi gak sengaja lihat kamar kakak dari luar pas bareng Nadhira!"
Arka menggaruk kepala, gadis ini tidak mudah untuk menyerah hingga buat Arka bingung
"Aku mau istirahat dulu, supaya aku besok sembuh dan sekolah, kamu bisa sama Nadhira dulu kalau masih mau main disini," Arka melangkah pergi dengan kepala berat, dia membuka pintu menuju ke dalam rumah perlahan.

Di ujung pintu, Arka menatap Tiara kembali dengan sayu, "Tiara.... Iya aku masih sangat Cinta sama Kamu!" Arka kemudian menutul pintu perlahan menuju kamarnya.
Ucapan Arka terdengar samar karena agak jauh dari posisi Tiara berdiri saat itu, Tiara menyayangkan kenapa dia tidak mengikuti langkah Arka dan mendengarkannya dengan jelas, tapi sekarang Arka sudah berada dibalik pintu, menuju kamarnya untuk beristirahat.
Tiara tidak ingin mengaggu lagi, tapi walau kata-kata Arka samar, Tiara bisa merekam dan memastikan kalimat ucapan Arka, Tiarapun pulang dengan tersenyum.
***
"Bu, tadi saya lihat di CJM Arka pucat, tadi sempat ngobrol dia bilang sudah minum obat, tapi takut bohong nanti di cek lagi sama ibu ya!"  Ucap Tiara dengan tersenyum.
"Oke, nanti Ibu cek,Terimakasih ya Tiara, kamu anak yang sangat baik dan manis."
"Saya pamit dulu ya, Bu!"
"Gak main dulu, Nak?"
"Saya takut ganggu, Bu! lain kali saja."
"hati-hati, salam buat pak Firman, terimakasih sudah baik pada Arka seperti pada Anaknya sendiri, Arka sering cerita tentang ayah Kamu."
"Iya nanti saya sampaikan ke Ayah, Saya pulang dulu Bu! Asslamualaikum!"
"waalaikumsalam!"
 ****

Bersambung Coy 

Mohon maaf jika Arka hari ini kata-katanya kasar Teman-teman, itu Faktor amarah saja, Tapi sudah saya Jinakan, saya suruh dulu rebahan Arkanya karena Part selanjutnya saya suruh fighting, tonjok-tonjokan gitu, sama siapa sih?? tunggu aja besok 

Extra:
Arka : Thor, sembuhin gua dulu baru boleh suruh gua fighting, gua gak mau fighting kalau masih demam!
Author : Terserah saya, ko anda yang ngatur...
Arka : Mohon pengertiannya, biar Gua menang, malu dong pemeran utama Kalah,
Author :Baca aja bismilah yang banyak!!
Arka :    :(


Senin, 26 Agustus 2019

Part 5 : Di Jewer Mamah


"Ujang kasep... ini Nenek bawain Boled sama Sampeu kesukaan kamu!" Kata Nenek Arka di depan pintu rumah menyambut cucunya pulang larut.

Arka terdiam, teringat dia pernah berbohong berlibur ke rumah Nenek, eh malah Neneknya ada disini sekarang, Ibu juga ada di samping Nenek membuat Arka salah tingkah.

"Jang, kenapa kamu diam saja, udah lama ya kita gak ketemu udah berbulan-bulan yang lalu, pas lebaran haji waktu itu ya," ujar Nenek mengenang.

"Iya, Nek! udah lama ya hehe..." Arka menjawab ragu-ragu.

Arka melirik ke Arah Ibu, dilihatnya mata Ibunya melirik juga ke Arka, terlihat mata Ibunya Arka seperti seorang Ninja Asasin yang sedang ingin tebas musuh, "ko suram?" gumam Arka dalam hati.

"Kalau mau Boled ambil di dapur, Nenek mau ketemu Vino dan Vini dulu ya nak, jangan lupa di habiskan, soalnya yang suka cuman kamu doang!" ucap Nenek.

Telinga Arka panas dan memerah, Ibu kini sudah menjewer Arka tanpa ampun setelah Nenek pergi.

"Seminggu liburan kemarin kamu kemana? katanya kerumah Nenek, Nenek bahkan tidak bertemu dengan mu!"

"Ampun, Mah! semua bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan, ampun..."

"Diam kamu! ayo jelaskan sekarang, kamu tahu tidak tetangga pada ngomongin kamu, Arka."

"bibiarkkan saja mah, tidak usah baper, arka udah biasa di salahfahami orang hihi," Arka berceloteh menyembunyikan rasa takut.

Jeweran Ibu terlepas, ganti cubitan di pipi berkali-kali.

"Terus sebenarnya kamu kemana, anak nakal? Awas kalau malakin orang diterminal loh."

Arka cuman terdiam, sambil mengelusi pipinya.

“Arka, bisakan  sekali saja kamu betah di rumah, kenapa kamu lebih nyaman diluar dari pada di rumah sendiri, semenjak Papahmu pergi, apa harus sefrustasi itu?, kamu seperti anak yang hilang saja, cuman muncul beberapa jam lalu pergi."

Arka pura-pura baca buku tiba-tiba, masih saja tidak menjawab.
"ditanya malah diam ini anak,"

Bu Lidya akhirnya terdiam putus asa, 

"Aku... anu, sebbetulnya, emhh itu cuman sedikit bantu mamah kerja." 

"Ya ampun, kan sudah mamah bilang itu tidak usah kamu lakukan."

"Gak masalah, Mah! Arka kan Pria, mau melindungi mamah, Relax Mah... Relax."

Ibunya sekarang yang terdiam, Ibu Lidya tahu percuma melarang Arka, tetapi dia juga tidak tega pada anaknya. Wajahnya yang dari tadi terlihat marah mulai menjadi sendu.

“Mah, besok Arks diajak ikut mengajar di CJ-Music School sama Pak Firman, ngajar anak-anak usia SD main music sama olah vocal, Arka minta sama mamah ijinin Arka, please! jangan Negatif Thingking terus sama Arka,  dari pada Arka keluyuran, apa lebih baik mamah ijinin Arka bantuin mamah nyari uang , soalnya mamah larang juga percuma, dibelakang aku bisa lakuin ini semua, di tempat pak Firman gak lama kok cuman seminggu tiga kali selama dua jam.”
“Bukannya apa-apa Arka, kamu ini sudah kelas tiga, nanti belajarmu terganggu.”
“tidak akan, aku bisa jamin dan yakin, Mah! masalah nilai aku jelek, memang dari dulu nilaiku jelek kan, mah? bukan karena banyak kegiatan diluar.”

Arka memang keras kepala membuat ibunya menjadi bingung.

“Tapi, Kalau masalah cari uang itu urusan mamah, mamah gak mau kamu ikut campur, maaf jika penghasilan mamah kurang sehingga kamu nekad cari kerja sambilan.”
“Engga itu urusan Arka juga, soalnya Arka Anak pertama disini, dan adik-adik Arka semuanya ada tiga, butuh pendidikan semua, mereka pintar-pintar, gak kaya Arka, Tapi Arka bisa mengandalkan suara Arka untuk membantu keluarga kita.”
“ya sudah mamah ijinin kamu, tapi jangan terlalu berlebihan, sewajarnya saja, tetap harus mengutamakan pendidikan.”
“Terimakasih untuk ijinnya mah, Arka jadi tidak perlu main kucing-kucingan lagi dengan Mamah.”
“yah mau bagaimana lagi, kamu kalau sudah punya perinsip susah untuk diganggu."
***


3 Bulan berlalu begitu cepat, dengan rutinitas Arka yang penuh, pulang sekolah ke CJ-Music School di daerah Cijerah, pulang dari sana, mengamen sebentar, lalu ke cafe milik keluarga temannya dan menyanyi disana saat malam hari, jika ada waktu luang, digunakan untuk latihan dan latihan saja, lalu jika ada Festival music Arka pasti daftar untuk ikut, tidak merasakan pacaran, main game, dan nongkrong dengan teman dengan tenang, apalagi tidur sepanjang waktu di saat libur seperti teman-temannya yang lain, Arka tidak iri melihat kesantaian temannya saat main games, ataupun tertidur santai dengan bermalas-malasan, karena bernyanyi adalah nafas hidupnya, dan dia menikmati setiap dia bernyanyi utuk orang lain ataupun dirinya sendiri, menjadikan dia bersemangat, atau juga terkadang luapan-luapan emosi Arka, ia keluarkan berupa scream dalam sebuah nyanyian hardcore. 
Sementara Tiara sering menatap mengharapkan Arka jika bertemu, walaupun Arka sedingin es saat dia sapa, tapi ternyata tidak ada kemajuan, dan perubahan atas sikap Arka membuat hati Tiara terasa sesak dan  pilu,  tiga bulan dengan sikap Arka membuat Tiara perlahan menyerah dan menjauh dengan sendirinya.
Tidak jauh dari Tiara, sebenarnya dilubuk hati yang paling dalam Arka menyimpan sebuah lubang luka didalam hatinya, dengan berbagai macam pertimbangan dia melepas Tiara, menyadari dia dalam ekonomi yang surut, belangsak membuat dia minder pada anak Pak Firman guru vokal sekaligus dewa penolong, penasehat yang bijak, serta sesosok figur ayah idaman bagi Arka, Arka sekali berperinsip tidak akan main-main, dia tidak sudi mengajak wanita merasakan kemiskinannya.
Apalagi jika berpapasan dengan Tiara di jalan dan kebetulan Arka sedang dibawah terik matahari mengharapkan beberapa uang dari kendaraan yang berhenti di lampu merah, membuat dirinya merasa jadi pecundang paling kalah dihadapan dewi yang pernah mengisi hatinya.
Walaupun sekarang Arka mempunyai penghasilan yang lumayan, semuanya diserahkan kepada Ibu dan Adik-adiknya, untuk kepentingan pendidikan yang lebih baik, seperti bimbel Nadhira dan biyaya sekolah SD Vino, dan TK Vina, dan juga biyaya sekolah dia sendiri, ia hanya mengambil sedikit untuk jajan yang tidak boros tersebut.

Arka pergi kekamar, hendak tidur, tidak lupa sebelum tidur dia mengecupi foto Tiara yang difoto tersebut sedang di rangkul Arka, lalu diletakan pula gitar baru di sisi kasur, gitar baru itu pemberian dari Pak Firman.
Pak Firman dan anaknya Tiara akan menjadi dua orang yang berarti selain keluarga Arka, tidak akan Arka lupakan.
***
Bersambung






























Part 4: Dicium Bidadari

Tiara menjinjitkan kaki, merangkul Arka yang berbadan tinggi tegap, dan berusaha mencium Arka dan berhasil, Arka terdiam dan kaget dengan ulah Tiara yang tidak menyerah, Tiara terus beraksi walaupun Arka diam tidak merespon tapi juga tidak menolak, Tiara memundurkan badannya karena merasa kecewa Arka tidak bermain bersama megikuti lumatan, malah terpasang wajah sinis terus menatap ke arah Tiara.

"Tiara, aku mau tanya sama kamu?" Kata Arka tiba-tiba
" Kamu tahu gak, Kehidupan manusia purba yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain disebut apa?"
Tiara mengerut dahinya bingung, kenapa dalam situasi seperti ini Arka menayakan hal seperti itu, oh apakah Arka akan melakukan gombal seperti di TV yang sedang hits itu, berarti Tiara harus jawab Tidak Fikir Tiara.
"Gak tahu, emang disebut apa?"
"Hahaha... makannya kalau sekolah belajar yang benar, giliran cipok gua pinter banget hahaha." Ledek Arka dengan tatapan meremehkan, dan berkata kembali dengan mimik serius "Jangan lakukan itu kalau sama cowok yang lain, nanti kamu di manfaatin." Arka berkata lalu berbalik hendak pulang

Tangan Tiara menahan baju Arka, Arkapun terdorong kearah Tiara karena tarikan itu
"Tunggu Kak Arka" Rengek Tiara
"Apalagi sih?" Arka berbalik meghadap Tiara
"Aku kira kakak mau bicara gombal, makannya aku bilangnya 'gak tahu."
"Oh" Arka berbalik dan mau pergi lagi.
Sepasang tangan Tiara menahan lebih kencang dari yang pertama, Arka kembali terdorong ke Arah Tiara.
"Ada apa lagi?" Arka bertanya kedua kalinya
"Jawabannya Nomaden, aku tahu ko. Aku gak bodoh loh, nilai sejarahku 9, Geografi juga 9, Fisika 8."
Arka mengembungkan pipi,menahan tawa melihat ekspresi Tiara sungguh memelas, manja, menggemaskan, sambil pamer nilai dan berkata dalam hati, "Gua juga gak tahu jawabannya padahal hihihi, kan di sekolah gua rangking dua di belakang hahaha."
"Iya Tiara memang pintar!" Arka mengelus rambut Tiara tanpa sadar.
Arka langsung menjadi tegang setelah mengingat tekadnya untuk tidak pacaran dulu, dan fokus 
menjamin kehidupan keluarganya ke tingkat ekonomi yang lebih baik lagi, lagi pula tiara tidak akan bahagia kalau bersama dengan Arka yang sudah merosot, belangsak dan terlunta-lunta. Uang di saku aja sekarang cukup untuk bensin doang menuju ke Buah Batu karena Arka janji sama Rafael akan ikut jadi Pamirig ( kelompok musik tradisional ) gamelan dan mendapat bayaran dari sana.
Arka lalu pergi terburu-buru.
"Aku mau liburan dulu ke Buah Batu besok, bersenag-senag cari cewek cantik disana, kamu jangan mikirin aku terus, belajar aja, biar bisa jadi guru kaya Ayah kamu!"


Arka bergegas pergi dengan terburu-buru sambil menahan luka di dadanya, tidak bisa terus terang karena terlalu angkuh dan tidak ingin dipandang lemah oleh Tiara. Padahal selama hidupnya baru pertama kali mencintai wanita sedalam ini, selama ini Arka sering main-main saja. Walaupun demikian karena keangkuhannya tidak pernah dia tampakan perasaanya tersebut. 

-----
Satu minggu berlalu, Arka sudah kembali pulang dari Buah Batu dengan perasaan lumayan baik, karena bisa memainkan alat music tradisional dengan lumayan bagus untuk ukuran pemula, tetapi tentu saja itu bukan seleranya, hanya untuk mendapatkan uang, jenis music apapun ia geluti selagi ada kesempatan, diapun bersekolah, dan dalam liburannya yang tidak sia-sia itu dia dapat bayaran yang lumayan, dan memberi hadiah untuk ibu dan adik-adiknya, Ibu Arka heran kenapa Arka bisa membeli barang dengan harga yagn lumayan tinggi sebagai hadiah, Arka hanya menjawab semua itu pemberian dari temannya yang terlalu baik.

Arka mulai kesekolah, berbeda suasan yang Arka rasakan, saat siswi-siswi menatapi dia dengan tersenyum dan melambai, mantan pacar Arka di sekolah itu juga ikut tersenyum manis ke arah Arka, tidak lama setelah itu Ada seorang guru olahraga menghampiri Arka menepuk punggung Arka.
"Halo Crazy Singer!"  kata Pak Toha.
"Hah.. maksud bapak saya gila?" tanya Arka heran.
"hahaha, Crazy Singer, you are very amazing!"
"Pak Toha kenapa? butuh tolak angin? saya adanya bodrex pak!"
"Crazy Singer, ayo kesini!" kata Pak toha mengeluarkan HP lalu  berfoto bersama Arka.
Arka tercengang tidak megerti.
"Kamu penggemmar Guns N Roses ? sama saya juga suka" Kata Pak Toha
"Iya, emang bapak lihat saya di Festival di Cijerah ya?" tanya Arka.
"Engga saya gak tahu acara yang semacam itu, saya cuman lihat di FB ada Vidio kamu" Kata Pak Toha.
Pak Toha berlalu, karena kesibukannya, sementara gua tentu gak tahu, karena jarang buka FB, paling si Tama yang upload.
"Hay Crazy Singer" Ucap satu kelas pada Arka.
Mereka tersenyum, tapi Arka datar-datar saja acuh tidak peduli.
Arka bergumam "Apaan lagi sih ini, orang-orang, dari jaman gua kelas satukan emang sering lihat gua nyanyi, kaya yang baru lihat gua aja."
"Mungkin karena pas kalau di acara Sekolah gua cuman bawain lagu yang easy listening aja kali ya, ya iyalah kalau gua nyanyi Metal di sekolah yang ada Guru pada murka sama Gua." Arka bergumam dalam lamunan belum terjawab, "tapi tunggu dulu sejak kapan nama Arka jadi Crazy Singer? Anjay!"

"Woy Tama, sejak kapan nama gua jadi orang gila?"
"Cek aja di FB Lu!" kata Tama Singkat sambil terus baca buku.
"HP gua udah ganti Tama, coba pinjem!"
"Bagus dong HP baru lebih cangih high speed pasti di pakai internetan kenceng tuh."
"Ngeledek ya lu Tam, lihat nih HP Gua udah ganti Nokia jadul 3315, Android udah lama gua kasih ke Nyokap karena kasihan dia pengen vidiocall mulu sama Nenek gua yang ada di Buah Batu."
"Haha. itu HP anak bujang kaya gitu amat, peniggalan jaman pra sejarah itu, kirain ganti ke yang lebih bagus."
"Cepat pinjemin gua HP, mau lihat gua."
"Nih"  

Arka membuka HP Tama, sekaligus Akun Tama juga.
Ada yang mengupload tapi bukan Tama ke sebuah Grup FB, nama grup tersebut "Warga Bandung" karena grup itu cukup ramai sehingga Share Postingan cepat sekali menyebar, dengan komentar ribuan, Arka membaca sekilas ada Tagar dan Judul, serta beberapa cuplikan isi artikel
Tagar  : #crazySinger
Judul  :  Anak SMA ikut Festival bawain lagu gila-gilaan,
Isi       : Seorang anak remaja yang  belum diketahui identitasnya itu, memiliki stamina yang bagus, dan suara yang melengking, dan juga dengan wajah tampan, membawakan beberapa lagu legendaris, silahkan lihat videonya untuk menyaksikan aksi gila anak ini #CrazySinger #AnakSMA #SkillInternasional #Viralkan #bantuViralkan. 

Ribuan komentar psitif terpampang tidak sempat di baca Arka.

"Ya elah gini doang bisa jadi Viral ya?, perasaan gua nyanyi puluhan Festival dari dulu gak pernah diginiin sama orang..." kata Arka sambil duduk seperti sultan.
"Iya sekarng kan zamannya diviralin, gak kaya dulu bro!"

Sebenarnya Arka tidak begitu peduli dengan pangilan orang-orang seperti apa yang penting tidak membahayakan dirinya. Arkapun kemudian belajar dengan penuh rasa bingung untuk menagkap pelajaran, wajahnya sudah konsentrasi penuh dan semagat belajar bergejolak tinggi tapi tetap saja bingung. ( Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan guys ).

Arka di panggil oleh Pak Firman, Guru Mata Pelajaran Seni Budaya sekaligus pembina ekskul Kesenian.

"Selamat siang Pak Firman!"
"Ya Arka, silahkan duduk Nak!"
"Baik Pak, terimaksih!" Arka duduk dengan gugup.
"Arka minggu kemarin kamu ada di Pestival Music di cijerah itu kan?" Tanya Pak Firman to the point
"Benar Pak, bapak lihat saya di uploadan FB juga?
"Tidak, saya tidak buka FB, saya kemarin jadi panitia disana, lihat kamu langsung."
"Oh, hehe." Arka tidak pandai berbicara dihadapan guru hanya tertunduk kikuk.
"saya ngajar kamu dari kelas satu disini, kamu banyak kemajuan ya!" ucap Pak Firman dengan wajah bangga.
 "terimakasih Pak!"
"Saya mau nawarin kamu buat bantu saya di CJ-Music School, pemilik tempat itu adalah teman saya, apa kamu bersedia?"
"Apa pak?"
Arka bingung dan senang dalam waktu bersamaan, tidak tahu bagaimana caranya pak Firman bisa tiba-tiba bisa ajak dia, padahal banyak anak berbakat yang lain disekitar dia, yang lebih buat Arka deg-degan adalah Pak Firman ini Ayahnya Tiara.

"Iya, nanti ada bayarannya tenang saja!". Pak Firman lanjut bicara setelah melihat Arka hanya mematung dan kebingunga.

"iya saya bersedia pak" Jawab Arka setelah mendenar kalimat uang yang sangat ia butuhkan, Arka sekalang belangsak dan sekaligus merasa tergerak hatinya saat lihat Ibu yang ia sayangi banting tulang sekaligus mengurus adiknya yang lain dalam waktu bersamaan.

"Nanti, kamu kalau pulang sekolah ijin dulu ke orang tua, terus bareng saya ke lokasinya!"
"Baik pak, tapi kenapa bapak ajak saya? anak yang lain bukannya banyak ya pak?"
"Simple aja sih, soalnya kamu kemajuannya pesat tiga tahun ini, jadi saya optimis sama kamu!"
"Makasihh banyak, Pak Firman!"
"Ssama-sama, saya juga terimaksih sama kamu, malam itu antar Tiara pulang, waktu itu istri saya sakit, dan saya sedang ada diluar urus Festival sampai selesai."
Arka kaget dan gugup mendengar orang tua Tiara berterimaksih padanya, padahal dari kemarin Arka sudah melukai hati putrinya Pak Firman itu.
Arka bergumam "Maafkan saya Ayah mertua" 
Author bergumam "Muna Lu, bilangnya gak mau, sekarang bilang Ayah Mertua". Author berlalu dengan senyum jahatnya.

_____


Bersambung



Sepecial Biodata Arka 


Nama Lengkap : Muhammad Arka Pranata
Nama Panggilan : Arka, Aa Arka, ujang Kasep ( By nenek Arka )
Alamat : Cijerah, Bandung
Usia : 17 Awal Episode - 27 Akhir Episode
Keahlian : Vocal, scream, Growl, pig squeals
Kiblat Music : Bless The Fall, Bullet For My Valentine, Bring Me The Horizon
Kiblat Style   : Bless The Fall, A7X
Lagu yang sering di dengar : semua Lagu Guns N Roses , A7X (Semua album )
Lagu yang sering dianyanyikan : Pop, Pop Rock, rock alternatif, hardcore, hard rock ( Sesuai permintaan orang ).
Minuman Favorit : Air Mineral
Makanan Favorit : Makanan tanpa minyak contoh kulub sampeu, hui boled ( Bisi Batuk Entar suara aa Butut katanya )
Type Cewek : Wanita Bertutur Kata Lembut , wanita menggemaskan.
Jabatan : Ketua Fans Club Se Bandung A7X ( kelas 1 s/d kelas 2 ) sekarang Aa Arka Sibuk.


*Karena Arka bekerja dalam bidang menyaynyi, dia bernyanyi mengikuti selera masyarakat, walaupun di list HP-nya Hard Rock, Metalcore atau yang mirip-mirip itu, tapi baginya pendengar adalah Raja, jadi dia sering menyanyi Pop juga.




Part 1: Ciuman perpisahan

Muhammad Arka Pranata, remaja SMA yang ambisius, mandiri, memiliki tekad yang kuat, dan mempunyai suara emas, dia juga screamer Sekaligus vokalis yang handal dengan skill di atas rata-rata, tapi dimatanya terpancar sebuah dendam yang entah bisa terbalaskan atau tidak, sebuah kejadian menimpa keluarganya, akibat ulah pelakor yang merampas kebahagaiaan keluarganya, Ayah Arka, Aditya Pranata, menelantarkan dia, ibu, serta tiga anaknya yang lain, tidak ada kabar, dan tidak membekali dengan cukup sebelum kepergiannya, membuat beban di pundak Arka anak pertama keluarga tersebut menjadi bertambah secara tiba-tiba.
Seorang gadis belia cantik manja, namanya Putri, terlihat sedang mengobrol dengan menghampiri Arka yang sedang duduk tapi tatapannya tidak fokus pada lawan bicara.
"Maaf Arka, aku ingin minta pitus..." kata Putri tertunduk lesu.
Arka diam menatap sinis duduk sembarangan seperti raja.
"Eemm.. itu... Karena, aku sekarang kan kelas 3, harus fokus belajar, kamu terlalu baik buat aku, sebetulnya kamu tidak salah ap..."
"shut up!" pekik Arka
Putri tersentak kaget.
Arka lanjut berbicara "sanah pergi, kalau mau putus ya putus aja, berisik alesan lu banyak banget, bacottt."
Putri mulai pergi perlahan, dengan sedikit kaku dan takut melihat ekspresi Arka.
Sebelumnya, Arka satu jam lalu dapat Chat dari Amanda pacar Arka yang lain minta putus juga, sama halnya dengan Putri alasannya panjang lebar, berbelit-belit, padahal Arka tidak tanya alasannya, dan satu lagi Lina SMS satu hari sebelumnya minta putus juga.
Ya Arka punya pacar 4 sebelum dia berada dalam masalah keluarga, tiga diantaranya memaksa untuk diterima cintanya, rela di dua atau di tiga.
"wanita-wanita tidak berguna, dulu maksa-maksa sekarang kabur semua setelah tau gua jatuh miskin," gumam Arka dalam hati.
Selang dua hari, Arka duduk kembali di tempat nongkrongknya, biasanya dia sama temannya, tapi kali ini dia sendiri, dia selalu sendiri akhir-akhir ini, sambil memegang gitar, melantunkan lagu aliran metalcore, terkadang mengeluarkan tehnik scream dan growl, berteriak mengeluarkan emosi dan kegelisahan, teriakan itu penuh emosi dalam harmonisasi nada, sebagai pelampiasan-pelampiasan dalam rasa kesalnya, lalu dia menyanyikan kembali lagu penuh kepiluan, sekarang lebih slow dan santai dalam lirik yang penuh duka, setelah mengingat kelakuan ayahnya, dan mengingat tangisan ibunya yang terlanjur terekam oleh benak Arka,  tanpa sadar sepasang mata wanita cantik menatapnya, namanya Tiara, satu-satunya wanita yang tidak tahu kalau Arka punya 4 pacar, Tiara hanya tau Arka cuman pacarnya, kepolosannya membuat dia mudah dibodohi.
"Halo kak Arka!" sapa Tiara menatap Arka penuh cinta dan kasih.
"Mau apa kamu kesini? Mau minta putus?, cepat bilang aja, tapi gak usah pakai alasan, alasannya pasti basi."
"emhh.. Enggak ko."
Tiara mendekati Arka perlahan dan duduk disampingnya.
"Kak Arka , aku dengar kabar tidak mengenakan, apa itu benar, kakak harusnya cerita sama aku, aku ingin tau masalah sebenarnya."
Arka terdiam, tersenyum sinis, menganggap remeh pada Tiara, tapi enggan bercerita masalahnya, dia tidak suka terlihat lemah dan kalah seperti seorang pecundang, Arka juga tidak suka tatapan Tiara yang terlalu mengasihinya.
"pergi aja kamu yang jauh, nona cantik!"
Arka bergumam dalam hati "kalo elu denger gua jatuh miskin, paling lu kabur kaya yang lain, so baik lu."
Tiara tidak beranjak dari tempatnya dengan keras kepala walaupun tatapan Arka sudah suram dan tidak enak dilihat.
"kamu gak pergi juga?" ucap Arka kembali
Tiara menggeleng, "aku akan menunggu Kak Arka menceritakan keluh kesah kakak sama aku."
"hahaha, bocah!" tertawa Arka sangat jahat dan mengancam
Tiara masih terdiam penuh harap
"Sini lebih dekat kemari kalau berani, tapi jangan nyesel ya!"
Tiara mendekat lebih dekat dari sebelumnya, memandang mata Arka dengan tatapan sendu, lain halnya dengan Arka menatap balik dengan sinis, dan mencium tiara tiba-tiba cukup lama, gerakan tangan Arka juga liar sampai menyentuh bagian dada, dalam durasi yang cukup lama, Tiara memejamkan mata dan membalas Arka.
Setelah beberapa menit Arka melangkah beberapa meter jauh sambil menatap ke arah lain dengan nafas yang berat, lalu menatap mata Tiara kembali.
"Tiara aku minta sesuatu sama kamu!"
"Apa kak, kakak udah mulai mau cerita sama aku? Aku akan mendeng..."
"diam, berisik, bukan itu" potong Arka
"lalu apa kak?"
"Aku ingin kita putus, dan jangan lagi muncul dihadapanku!"
Tiara bengong terpaku, dan meneteskan air mata
 Arka berkata kembali "anggap ciuman tadi ciuman perpisahan, selamat tinggal!"
Arka berlalu pergi meninggalkan Tiara yang menangis sendiri.
***
Bersambung

Minggu, 25 Agustus 2019

Part 9 : Beautiful Voice

"Tiara?, sedang apa dia?"Gumam Arka menatap ke Arah Tiara dengan sorot mata yang kagum dan lemah.

Arka menghampiri dengan perlahan, tidak ingin mengganggu kegiatan Tiara, makin mendekat makin terdengar, suara merdu dengan aliran jazz terlantun dari mulut jelita yang sering mengganggu fikiran Arka. Arka tidak menyapa sedikitupn supaya lebih lama bisa mendengarkan suara Tiara yang baru pertama kali dia dengar, sejak pertama kali pacaran dia tidak tahu kalau Tiara bisa menyanyi. Tapi dia tidak kaget mengingat Ayah Tiara adalah guru vokal yang handal.

Tiara selesai bernyanyi dan merasa hari semakin malam, dia melirik jam dinding dan hendak beranjak hendak pulang, dia beranjak dari banch Piano Upright merk Kawai versi Nevous-10 , tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat wajah Tampan Arka melihati dirinya dengan sangat jelas, seketika Tiara mendengar degupan kencang di dalam dada, mulai salah tingkah merasa malu.

"Kenapa Kak Arka belum pulang?" Tiara menatap dengan sorotan hampa.
"Aku mengambil barang yang tertinggal!" Ucap Arka datar.

Arka tidak membahas tentang lantunan lagu yang barusan ia nikmati, sengaja supaya dia semakin membuat jarak dan tidak ingin membuat ikatan emosionalnya tumbuh, karena merasa mlu dengan Finansialnya yang merosot, dompetnya yang kering diisi hanya puluhan ribu saja, mungkin selesi manggung baru terisi lagi, itupun masuk kedalam tabungan keluarga nantinya.

"Oh yah sudah kak, hati-hati di jalan ya pulangnya!" ucap Tiara setelah melihat Arka mengambil sebuah buku. Dengan raut yang melemah

"Baik Kak Arka mau pulang, kamu juga ya!" Arka melangkahkan kaki keluar dengan berat, tata bahasanya semakin kaku.

Tiara memegang baju Arka menahan dengan manja, karena tidak bisa berdiam dengan Arka terlalu lama, dia juga tidak ingin Arka pergi begitu saja.

"Heh bocah, baju aku melar tau!"

"Kak Arka, jangan pergi dulu, please!"

"Sudah malam bocah!"

"Sebentar saja, aku mohon!"

Tidak tega, tidak bisa terus bersandiwara mendustai perasaan, Arka berbalik menghadap ke arah Tiara, tapi tidak berbicara sedkitpun.

"Kakak bentar lagi mau ujian ya?"

"Iya, kayanya aku gak kesini dulu mulai besok, juga gak ke cafe lagi mau bimbel dulu."

"Oh semoga nilainya memuaskan ya!"

"Iya, Aamiin, terimakasih."

Tiara ingin menahan Arka pulang, tapi bingung mencari bahan obrolan, sampai akhirnya Tiara maupun Arka terdiam cukup lama dan saling memandang dengan tatapan sama hampanya.

"Suara.. Suara kamu bagus" Tiba-tiba Arka mengucapkan kata itu, benteng pertahananannya melemah kembali.
"Mmm biasa saja sih, masih harus banyak belajar, tapi makasih!"
"Iya tentu, pak Firman guru vokal, pasti Tiara selalu belajar dari Ayah Tiara ya, aku baru dengar Tiara menyanyi!"
"Iya Kak", ucap Tiara kembali kaku.
"Kamu mau temani aku bernyanyi malam ini?"

Tiara kaget, membulatkan mata dengan detak jantung yang tidak karuan.

"Jangan...jangan sekarang, Tiara degdegan, udah kakak selesai ujian aja, tar Tiara latihan dulu."
"Udah ujian aku ada janji, mau pergi kesuatu tempat, mungkin sampai berbulan-bulan, sekarang saja, gak perlu latihan, cuman buat senang-senang saja, lagunya yang tadi kamu nyanyikan saja."

"Baik kalau gitu Kak, tapi divideoin ya, biar Tiara punya kenang-kenangan nyanyi bersama Kakak."

"Oke!"

Tiara mengatur posisi kamera yang di taruh di sebuah tripod, berhubung di tempat itu peralatan lengkap jadi butuh sesuatu tinggal ambil.

Arka sekarang yang duduk di banch piano upraight type NV-10 itu (Nevous), NV-10 di desain slim dan minimalis terlihat elegan apalagi Arka yang memainkannya dan akhirnya mereka menyanyikan lagu sebanyak 3 lagu,  lagu romantis karena Tiara tidak bisa menyanyi dengan aliran keras, dan Arkapun mengikuti, Arka jago juga dalam lagu slow tetapi jarang mau menyanyikan lagu bertema cinta karena Arka kurang suka, tapi karena yang dihadapannya adalah Tiara mendadak dia menikmati alunan lagu puitis tersebut, mungkin sebagai perwakilan hati juga, Arka hanya bisa bersikap seperti ini pada Tiara, tidak pernah ada satu wanitapun yang mendapat perlakuan istimewa semacam ini.
Inilah kali pertama Arka menyanyikan lagu Romantis.
Mereka selesai bernyanyi dan terlihat wajah keduanya puas dengan hasilnya.

"Tiara cepat pulang lalu tidur!"
"Baik Kak, Kak Arka juga ya, btw bolehkan Tiara upload di chanel Youtube milik Tiara? karena diluar dugaan hasilnya bagus sekali."

"Terserah Tiara saja, tidak masalah!"

Tiba-tiba langkah kaki Arka buru-buru ingin cepat pulang, raut teduh dan menyejukan kini berubah suram kembali seperti biasanya, tepatnya saat Arka memutuskan jaga jarak dengan Tiara, disaat setelah merapikan tempat itu dan mematikan listrik, terlihat dalam mata Tiara bahwa Arka tidak nyaman, seolah sudah tidak betah berada ditempat itu, dimana hanya ada mereka berdua disana, Tiara hanya bisa tersenyum masam, melihat tingkah Arka yang tidak tenang.
"Kak Arka jenuh baget ya sama Aku." Gumam Tiara dalam hati.
Dia tidak bisa mengatakan itu pada Arka, karena Arka terlalu cepat berlalu dan pergi.

Faktanya, semakin larut rasa emosional itu timbul lagi dalam jiwa Arka, Arka faham betul jika dibiarkan dia tidak bisa mengendalikan diri lagi dan bisa hilang kendali seperti hal kejadian di kamar Tamu di rumah Pak Firman, jiwa keberengsekannya akan muncul seketika jika tidak cepat pergi dari tempat itu, Arka lebih memilih menahan semuanya.
Sugguh Arka cuman tidk ingin menjadi seorang yang PHP ulung, tidak ingin seseorang menunggu lama untuk dirinya, karena mimpi dia masih panjang, tidak tahu berapa lama jika menunggu untuk bisa menyetabilkan finasial keluarganya yang carut marut, ditambah sudah ada rencana dalam diri dia pergi ke ibukota.
Arka tahu, semuanya tidak bisa instan, kehidupan tidak akan ajaib jika tidak ada usaha dengan sungguh-sungguh dan doa yang rutin. Tekad bahwa dia tidak mau berpacaran kalau masih menyusahkan orang lain apalagi wanita, masih tertanam dalam dirinya walaupun sebenarnya, dia butuh dan ingin didampingi, dan tidak mudah memecahkan tekad Arka tersebut.

***
Arka di hadang saat pulang ke rumah, siapa lagi musuhnya kalau bukan kakak kandung Liza, Namanya Martin orangnya keras kepala dan kasar, kali ini Martin lebih hati-hati jangan sampai di tangkap polisi, dia menyerang Arka menggunakan kata-kata mengumpat memaki, memancing Amarah Arka supaya Arka yang meledak duluan.

"Anak miskin, tidak berguna, binat***, orang gila sint***"

Dia menghentikan Motor Arka lalu menghinanya membabi buta meluap-luap.
Sungguh Arka tidak suka adu mulut seperti ini, ingin rasanya langsung memukul orang yang ada dihadapannya itu, Arka memejamkan mata menahan emosi sebisa mungkin, mengingat akan masuk masa ujian, dia juga harus menjaga nama baik setidaknya sampai lulus.

"Heh.. Macam mana pula lu, berani sama adik gua Liza, jangan cuman diam saja lu, macam patung gak berguna!"

Iya Liza berasal dari Sumatera, setahu Arka kini Ayahnya pergi jauh ke Sumatera juga susah di hubungi, Arka jug tidak tahu kenapa kakaknya dan Liza ada disini mungkin kah Ayah juga kembali ke Bandung, Arka tidak peduli.

"Adik elu duluan ancurin keluarga gua Bang, dia juga nyamperin nyokap gua, kita seharusnya gak ada urusan yah, jangan bikin gua emosi, masih muda usia dia beda cuman tiga tahunan sama gua, gak tahu malu."

"cihhh, itu juga urusan gua, ayo kita separing kalau berani, jangan bawa-bawa polisi!"

"Satu lawan satu?"

"Iyaiyalah, kecuali kalau lu cium kaki gua, jilatin sepatu gua, gua ampunin lu, hahahaha, dasar miskin, tidak berguna, sampah!"

"Emhh ya udah kalau mau tonjok-tonjokan gak usah menghina, gua ajak lu kesuatu tempat, biar suasana bertarungnya kaya di pelem-pelem, ada unsur dramatisirnya Bang, tempatnya sepi cuman kita berdua, disana gua bakal habisi elu!"

"Jangan banyak bacot, dimana tempatnya? ayo kita kesana, tangan gua udah gak sabar patahin rahang sama kaki elu."

"Yuk ikut gua, baca bismilah dulu bang, biar selamet!"

"bacot, buraun gua ikutin lu dari belakang."

Arka mengajak pria itu kesuatu tempat yang sepi, di sebuah gang dengan motornya, diikuti Martin dibelakang.

"Disini tempatnya? Sepi seperti lu ceritain, ayo lu serang gua duluan!" kepalan tinju dan kuda-kuda mulai terlihat.

"Mang Sukrim, Mang Badrun Tulungan Arka, aya nu rek ngajak gelut Arka!"

"Ngomong apa lu?, manggil siapa lu?"
Martin tidak mengerti karena bukan orang sunda.

"Aya naon ieu? Saha nu ngaganggu Alo urang? (ada apa ini, siapa yang menggangu sepupu gua?)."

Sukrim dan dan Badrun muncul, mereka adalah ketua preman yang pernah mendapat kebaikan dari Arka, dan sudah anggap Arka saudara sendiri, diikuti pasukan mereka yang berjumblah lebih dari sepuluh

"Mang tulungan, Arka arek sakola isuk rek ujian kalah rek digebugan (Bang tolong, Arka mau sekolah besok, mau ada ujian malah mau dipukulin sama orang ini)"

"Gera balik weh Lur, Keun Ku Amang di ladenan ari hayang gelut mah! (kamu pulang aja de, biar sama Abang diladenin kalau mau bertarung)

"Hatur nuhun! (terimakasih!)"
Arka pergi menggunakam motornya

"Aampunn, saya yang salah... Saya yang salah, tidak akan ganggu bocah itu lagi!" Kata Martin hendak lari tapi jatuh dan tersungkur.

Martien memang tidak mengeriti bahasanya, tapi suasana suram disana mampu ia pahami, di tambah sekarang dia dikepung oleh puluhan preman.

"Serangg...!!". Pekik Sukrim.

***

Bersambung Coy
Apakah segini cukup menegangkan? Mohon dkkeritik dengan kritik membangun.

Mohon maaf atas tulisan yang tidak sempurna, mudah-mudahan pesan di cerita tersebut bisa sampai ya..

~Menjadi hebat itu tidak instan.
~Usaha tidak akan pernah menghianati hasil, orang bilang Arka anak ajaib stamina tinggi skill juga udah tinggi, tapi juga wajahnya tampan, di balik layar Arka kesusahan jaga makanan, banyak yang di pantrang biar gak batuk, minuman cukup Air putih, latihan setiap hari, latihan pernapasan, intonasi, screaming, dll, yang paling penting feeling harus kuat. Jadi cerita di buat serealita mungkin..
~Arka di episode awal semena-mena ,palyboy, banyak pacar dan kasar, berubah karena keadaan dan situasi.

Bye...
Ini adalah sapaan terpanjang, karena rasa kasihan saya sama tokoh sendiri haha.